Artikel jurnal ini telah terbit pada JURPIPAS Jurnal Pendidikan Lembaga Penelitian STKIP-YDB Vol IV, No. 1, Januari-Juni 2015 dengan ISSN 2252-7540 PENERAPAN DISIPLIN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI SMA NEGERI 1 KOTO BESAR KABUPATEN DHARMASRAYA Silvia Anggreni BP, M.Pd. Email: reni.bertipalin@gmail.com Abstract The results of this study revealed the following: 1) Application of Discipline For Students Character Building Efforts. It can be seen that the discipline of the school regulations already good, it can be seen from the active participation of teachers in the preparation of order, socialization order, as well as the enforcement order. But awareness to shape the character of the students are lacking and need to be increased again, to create a law-abiding students and disciplined. 2) obstacles perceived by teachers to breach the low awareness of the importance of law-abiding students and apply discipline, as well as the community around the school environment is less support also influence the development of students' attitudes and character formation of students 3) attempts to do by the teacher and team discipline in school is to always continue to give good example to the students, as well as to give warning to the student if there is a violation. If the offense is to be punished, the teacher should provide penalties that are educational, such as: reading the Qur'an and read paragraph seats. Keyword: Discipline, Character School, SMA I. PENDAHULUAN Dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi, maka pemerintah melakukan berbagai usaha. Sebagaimana yang telah di amanatkan dalam pembukaan UUD 1945, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan serta kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan dan mendapatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Salah satunya adalah dengan mengikuti wajib belajar selama 9 tahun atau setara dengan tingkat SMP. Sejalan dengan itu pendidikan nasional Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini memberikan peranan penting guna terciptanya suatu lingkungan yang kondusif sehingga menciptakan bangsa Indonesia yang maju. Menurut peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil berdasarkan PP No 53 Th 2010, mengatakan bahwah dalam disiplin tidak hanya dalam bentuk ketaatan saja melainkan juga tangung jawab yang diberikan oleh organisasi berdasarkan hal tersebut diharapkan efektifitas pegawai meningkat dan bersikap serta bertingkah laku disiplin. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik maka guru harus bisa merencanakan proses pembelajaran dengan sebaik mungkin dan bersikap disiplin terhadap peraturan yang telah ditepkan pemerintah. Guna menunjang hal diatas, media yang dijadikan acuan agar tercapainya tujuan pendidikan nasional dan UUD 1945 salah satunya adalah sekolah. Hal ini dikarenakan sekolah mampu menciptakan seseorang yang berkompeten dalam berbagai aspek, baik itu dalam ilmu pengetahuan, sikap, moral, serta dalam bertingkah laku, sehingga mereka dapat di terima di lingkungan masyarakat. Sekolah juga merupakan tahapan yang harus dilalui seseorang dalam mengikuti pendidikan formal agar dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah memberi ruang bagi pemerintah dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. Kehadiran sekolah merupakan suatu hal yang sangat pokok, terutama saat sekarang ini dimana, apabila suatu bangsa tidak mengikuti perkembangan yang ada maka bangsa tersebut akan jauh tertinggal dari bangsa lainnya. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini dapat terlihat dari bermunculannya penemuan baru baik itu dalam bidang teknologi, telekomunikasi dan transportasi seperti : computer, laptop, handphone, kendaraan dan lain sebagainya. Kemajuan IPTEK ini tidak hanya membawa dampak yang positif tetapi juga berdampak negatif. Dampak positifnya dapat di lihat dari bagaimana manusia di mudahkan dengan adanya penemuan baru tersebut, sedangkan dampak negatifnya dapat dilihat dari bermunculannya kebudayaan-kebudayaan dari negara lain. Kebudayaan tersebut kadang kala tidak sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Pada umumnya kebudayaan yang datang dari luar tersebut tidak terfilterisasi secara baik oleh masyarakat Indonesia terutama oleh remaja dikarenakan masih rendahnya ketahanan yang ada dalam diri si remaja. Hal ini dapat dilihat sebagai contoh di budaya luar memiliki gaya berbusana yang berbeda dengan di lingkungan kita, akan tetapi karena mudahnya suatu budaya yang baru masuk, maka para remaja lebih cenderung untuk menirunya tanpa melakukan penyaringan dan mempertimbangkan apakah budaya tersebut sesuai dengan norma, moral yang berlaku. Di sini di butuhkan peran aktif dari sekolah dan guru untuk menciptakan suatu peraturan sekolah yang mampu menbendung dampak negatif perkembangan yang ada. Salah satunya adalah dengan melakukan penguatan ilmu dan norma terhadap siswanya. Peraturan sekolah yang terkoordinir akan mampu menciptakan siswa yang disiplin terhadap dirinya sendiri. Perkembangan sikap siswa merupakan tanggung jawab semua guru mata pelajaran. Akan tetapi di dalam lingkungan masyarakat telah terbentuk suatu stereotype bahwa sikap siswa merupakan tanggung jawab dari guru PKn dan semua warga sekolah . Hal tersebut juga tidak dapat di pungkiri kebenarannya, karena PKn merupakan suatu mata pelajaran yang menanamkan nilai-nilai taat hukum baik itu dalam lingkungan keluarga, sekolah, bangsa dan Negara, serta pengaplikasian dari hukum tersebut berupa disiplin diri. Dalam lingkungan sekolah sangat di butuhkan peran aktif guru agar terbinanya penegakan tata tertib sekolah dan disiplin siswa. Apabila sikap mental ini tidak tertanam maka akan muncul pelanggaran siswa seperti : terlambat datang ke sekolah, tidak berpakaian rapi, tidak mengerjakan tugas yang di berikan guru, absen, cabut dan lain sebagainya, yang membawa dampak tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga pada lingkungannya seperti : apabila seorang siswa cabut pada jam pelajaran hal ini akan memberi dampak buruk terhadap dirinya sendiri, karena tertinggal pelajaran yang seharusnya di ikutinya, dan bagi lingkungan teman sebayanya, akan terpengaruh terhadap kebiasaan buruk tersebut, dan bagi sekolah merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik sekolah. Maka dari itu dalam membentuk manusia yang berkompeten sekolah harus dapat melaksanakan peraturan dan tata tertib disiplin yang telah di buat. Tata tertib yang ada tidak hanya di berlakukan bagi siswanya tetapi juga kepada guru dan perangkat sekolah lainnya. Tata tertib dan disiplin merupakan rambu-rambu yang harus dilaksanakan sebagaimana mestinya, dengan adanya tata tertib dan disiplin siswa mengetahui hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dan hal apa saja yang harus dilaksanakan sebagai seorang siswa. Tata tertib dan disiplin ini sangat erat kaitannya dengan tugas guru sebagai tenaga pendidik. Tata tertib sekolah adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sangsi terhadap pelanggarnya. Jadi disini yang di tinjau adalah bagaimana peran guru, terutama guru mata pelajaran PKn dalam mengatur kehidupan sekolah guna terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif untuk proses pembelajaran selain itu mata pelajaran PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat mensosialisasikan penegakan hukum atau peraturan yang ada melalui mata pelajaran PKn. Disiplin menurut J. S. Badudu adalah menaati (mematuhi) peraturan, aturan yang ketat dengan kata lain disiplin merupakan suatu sikap yang harus dimiliki seseorang. Jadi disini yang di tinjau dari segi disiplin siswa adalah bagaimana penerapan disiplin sebagai upaya pembentukan karakter dalam penanaman sikap terhadap diri siswa agar siswa dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya sehingga dapat berlaku disiplin. Sejalan dengan pendapat Elsbre menyatakan: Bahwa salah satu tujuan pembinaan disiplin siswa di sekolah adalah mendorong anak menjadi matang pribadinya dan berubah dari sifat ketergantungannya terhadap orang lain. Disiplin siswa di sekolah adalah suatu kondisi yang menggambarkan bahwa siswa-siswi di sekolah tersebut mentaati semua peraturan yang berlaku di sekolah, baik dari segi bertanggung jawab, berprilaku jujur, sopan santun terhadap guru, dan mentaati norma yang berada di sekolah. Terlaksananya kedisiplinan tersebut akan menunjang tercapainya pendidikan yang diharapkan yaitu pendidikan yang berkarakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dari tindakan seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, tanggung jawab dan menghormati hak orang lain dan sebagainya. Jadi karakter adalah tingkah laku yang mendasar pada diri seorang individu. Secara umum dapat dikatakan bahwa karakter merupakan bagian dari satu kepribadian. Kepribadian mencangkup berbagai karakter didalam kepribadian. Dengan kata lain ada yang mengatakan karakter adalah kepribadian. Segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah. Tujuan pembinaan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong anak didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan membentuk karakter anak melalui orang tua dan lingkungannya. Dari pengertian di atas pendidikan karakter mengarahkan pada bentuk prilaku yang dimunculkan sesuai dengan pembentukan akhlak yang mulia dimana seseorang bisa bertingkah laku yang baik, jujur, tanggung jawab dan menghormati hak orang lain, yang selama ini menjadi terabaikan oleh guru sebagai tenaga pendidik disekolah. Pendidikan karakter disekolah secara sederhana bisa didenfenisikan sebagai penanaman nilai-nilai, berupa pemahaman-pemahaman, tata cara merawat dan menghidupkan nilai-nilai yang berguna bagi perkembangan diri pribadinya sebagai makhluk individual sekaligus sosial dalam lingkungan sekolah, serta bagaimana seorang siswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai ini pada kehidupan secara nyata. Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan dengan salah seorang guru dari tanggal 23 September sampai dengan 26 september 2014 di SMA N 1 Koto Besar, disini sudah terlihat siswa pada jam masuk sekolah siswa datang tepat pada waktunya, berpakaian rapi dan sopan, dan tidak cabut pada jam pelajaran, sholat berjama’ah, kalaupun ada yang terlambat atau yang tidak mematuhi aturan itu bisa dihitung dengan jari. Dengan adanya penerapan disiplin yang baik, pihak sekolah juga menghadapi kendala-kendala dalam pembentukan karakter siswa tersebut, maka dari itu perlu juga diberikan pengajaran melalui pendidikan karakter, dengan adanya pendidikan karakter tersebut akan membantu siswa untuk membentuk karakter siswa kearah yang lebih baik. Menurut pengamatan penulis dari fenomena yang di temukan di SMAN I Koto Besar terlihat beberapa fenomena tentang disiplin dalam pembentukan pendidikan karakter siswa terhadap peraturan yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah dan seluruh majelis guru. Sudah nampak terlihat sikap peduli dan patuh siswa terhadap pertaturan yang telah diterapkan oleh sekolah, seperti datang tepat waktu, tidak cabut pada jam pelajaran, berpakaian sopan. Tapi disisi lain belum nampak nya sikap dari pembentukan karakter siswa tersebut. maka dari itu perlu kerja sama guru dalam penegakan disiplin dalam pembentukan karakter, untuk memberikan pengajaran melalui pendidikan karakter, atau dengan cara yang lainnya yang bias mendidik siswanya kearah yang lebih baik lagi, dengan adanya pendidikan karakter maka akan tampak moral dan kesadaran untuk pembentukan karakter bagi siswa tersebut. Karena didalam pendidikan karakter terdapat sembilan pilar salah satu diantaranya yaitu kepatuhan dan keta’atan, apabila diantara salah satunya telah terwujud, maka Pendidikan karakter siswa tersebut akan terbentuk, dengan adanya peraturan yang diberikan oleh sekolah. Melalui penerapan disiplin, sekolah tidak sekadar mengembangkan kemampuan intelektual para siswa, melainkan juga memberikan sumbangan dasar bagi kesiapan moral anak didiknya dalam kehidupan. Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis sangat tertarik untuk meneliti lebih jauh dalam bentuk karya ilmiah dengan judul “Penerapan Disiplin Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Di Sma N 1 Koto Besar Kabupaten Dharmasraya” II. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yaitu jenis penelitian yang mencoba menggambarkan. Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan In-depth Interview, observasi partisipasi dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Miles dan Huberman (1992:122. III. PEMBAHASAN 1. Penerapan disiplin sebagai upaya pembentukan karakter siswa Berdasarkan temuan dan hasil wawancara dapat diketahui bahwa penerapan disiplin sebagai upaya pembentukan karakter siswa telah cukup baik akan tetapi masih perlu untuk ditingkatkan hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran siswa dalam mematuhi peraturan dan tata tetrtib disiplin. Menaati (mematuhi) peraturan dan aturan yang ketat, dengan kata lain disiplin merupakan suatu sikap yang harus dimiliki seseorang. Dilihat dari segi disiplin dan penyusunan tata tertib di SMA N I Koto Besar telah ikut berperan dalam penerapan disiplin dalam memberikan usulun-usulannya sehingga terbentuknya peraturan disiplin dan tata tertib di sekolah. Sebagaimana yang dijelaskan Dalam buku Administrasi Pendidikan Sekolah Dasar yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan ada beberapa peraturan disiplin yaitu : a. Dalam kegiatan intra sekolah 1. Masuk sekolah, para siswa harus datang/berada disekolah sebelum pelajaran dimulai 2. Waktu belajar, sebelum pelajaran dimulai, pelajar yang bersangkutan harus siap untuk menerima pelajaran yang akan diberikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan 3. Waktu istirahat, para pelajar tidak dibenarkan berada didalam kelas, tetapi tetap berada dalam halaman gedung sekolah 4. Waktu pulang, para pelajar pulang pada waktu pelajaran sudah selesai 5. Kebersihan dan keindahan sekolah,setiap pelajar wajib memelihara dan menjaga kebersihan sekolah 6. Cara berpakaian, para pelajar wajib berpakaian sesuai dengan yang ditetapkan sekolah b. Dalam kegiatan ekstra kurikuler 1. Organisasi siswa intra sekolah, didalam lingkungan sekolah hanya ada organisasi intra sekolah 2. Kepramukaan 3. Keolahragaan 4. Kesenian 5. Palang merah remaja c. Larangan-larangan bagi siswa 1. Meninggalkan sekolah/pelajaran selama jam-jam pelajaran yang sedang berlangsung, tanpa izin kepala sekolah atau guru yang bersangkutan 2. Merokok dilingkungan sekolah 3. Berpakaian yang tidak senonoh dan bersolek berlebihan 4. Kegtiatan-kegiatan yang bersifat menggangu pelajaran d. Sanksi-sanksi para pelajar 1. Peringatan secara lisan langsung kepada pelajar 2. Peringatan tertulis pada pelajar dengan tebusan orang tua/wali 3. Dikeluarkan untuk sementara 4. Dikeluarkan dari sekolah Dilihat dari hal di atas, dalam penyusunan peraturan disipin di SMA N I Koto Besar juga telah mencakupi aspek-aspek tersebut. Selain itu penyusunan tata tertib dan disiplin tidak hanya melibatkan guru semata, tetapi juga siswa yang di wakili oleh perangkat OSIS, hal ini terasa lebih demokratis bagi siswa. Dalam proses sosialisasi suatu peraturan dan tata tertib haruslah disosialisasikan karena dengan adanya peraturan dan tata tertib mampu menciptakan lingkungan yang nyaman dalam menunjang situasi belajar mengajar. Siswa harus dibiasakan dengan aturan yang telah disusun. Suatu peraturan akan menjadi suatu kebiasaan bagi siswa, maka dengan adanya sosialisasi yang nyata dan penerapan langsung maka akan mampu menunjang penegakan aturan yang ada. Sosialisasi yang dilakukan di SMA N I Koto Besar secara umum dilaksanakan pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa), akan tetapi bukan berarti setelah itu tidak ada sosialisasi lagi, guru dan tim disiplin masih melakukan sosialisasi dengan memberikan penekanan terhadap peraturan tata tertib dan disiplin dengan mengingatkan siswa tentang peraturan sekolah apabila melanggar, atau dengan memberikan teguran lisan. Hal ini membantu siswa untuk tidak melanggar. Akan tetapi sosialisasi tidak hanya dapat dilakukan oleh sebagian guru saja, semua guru harus terlibat dalam proses sosialisasi ini. Dalam penegakan peraturan dan tata tertib sendiri guru dan tim disiplin memberikan konstribusi dengan menegakkan peraturan yang berlaku, bagi siswa yang melanggar guru memberikan teguran dan sanksi tegas, misalnya dengan membuat surat perjanjian atau hukuman yang mendidik. Salah satu bentuk dari sanksi tegas ini adalah saat pelajaran akan dimulai memeriksa kesiapan siswa, mulai dari keberhasilan kelas, kerapian siswa, tugas dan lain sebagainya dan bagi siswa yang terlambat atau tidak raapi tidak diizinkan untuk mengikuti pembelajaran. Akan tetapi masih ada juga siswa yang masih mengabaikan hukuman yang diberikan, bahkan ada sebahagian siswa yang mengabaikan kewajiban dalam pengumpulan tugas, dengan sering mengumpulkan tidak tepat waktu. Hal di atas mengingatkan pada peranan guru sehubungan dengan fungsi guru sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing maka diperlukan adanya peranan dari guru. Peranan dan penerapan dari guru senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya barbagai interaksi, baik dengan siswa, sesama guru, staf lainnya dan warga lingkungan masyarakat sekitar. Dengan adanya perhatian dari guru dan adanya interaksi dengan siswa maka sedikit banyak nya nilai-nilai luhur dalam diri siswa akan tertanam dengan sendirinya, guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing bagi siswa tersebut untuk membentuk akhlak dan karakter siswa. Disiplin adalah suatu keadaan tertib, ketika orang-orang yang bergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang hati menjalaninya. Dalam hal disiplin di SMA N I Koto Besar ini dapat dikatakan sudah mulai bagus, akan tetapi perlu ditingkatkan lagi tentang kesadaran siswa dalam pembentukan karakter.Didalam pendidikan karakter terdapat sembilan pilar salah satu diantaranya yaitu kepatuhan dan kesadaran, apabila diantara salah satunya telah terwujud, maka pendidikan karakter siswa tersebut akan terbentuk, dengan adanya peraturan yang diberikan oleh sekolah. Melalui penerapan disiplin, sekolah tidak sekadar mengembangkan kemampuan intelektual para siswa, melainkan juga memberikan sumbangan dasar bagi kesiapan moral anak didiknya dalam kehidupan. 2. Kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pembentukan karakter siswa Di SMA N I Koto Besar setiap penegakan peraturan dan tata tertib dan disiplin siswa, guru maupun aparatur sekolah sering kali menghadapi kendala, baik itu dari segi lingkungan, guru maupun siswa itu sendiri. Selain itu pengaruh perkembangan zaman juga menjadi kendala dalam hal penegakkan tata tertib dan disiplin ini dan berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa, hal ini menjadi dampak negativ dari globalisasi dimana pengaruh dari luar yang masuk dengan mudahnya, yang memberikan pengaruh terhadap sikap siswa. Era globalisasi saat sekarang ini pengaruh dari dunia luar gampang masuk yang pada akhirnya mempengaruhi sikap anak. Banyak kasus yang terjadi, seperti: seringnya siswa menyalahgunakan kepercayaan orang tua, mengacuhkan guru, berlaku tidak sopan dan lain sebagainya. Penurunan sikap siswa ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya kepada si anak, kadang kala kurangnya perhatian orang tua serta rendahnya pengawsan orang tua memicu terjadinya hal tersebut. Selain itu kendala yang juga dihadapi guru adalah kurang berpartisipasi aktifnya semua guru dalam melakukan pengawasan terhadap siswa, hal ini menjadikan peraturan tata tertib dan disiplin tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Peraturan yang ada hendaknya tidak hanya di berlakukan pada siswa, tetapi juga pada semua staf pengajar dan perangkat sekolah. Sehingga terbentuklah suatu sistem yang teratur dalam lingkungan sekolah. Kurangnya kesadaran dan kepedulian siswa terhadap peraturan menjadi kendala yang dirasakan oleh guru, hal ini dimungkinkan karena kurangnya perhatian orang tua di rumah dalam perkembangan sikap remaja. Selain itu tidak terlatihnya siswa pada saat masih di sekolah dasar (SD) ikut mempengaruhi hal ini, karena disiplin dan sikap taat aturan merupakan suatu pembiasaan yang harus dilakukan secar berkesinambungan dimanapun siswa berada. Beberapa kendala dalam menanamkan nilai dan moral sebagai wujud pembentukan karakter yaitu terdapat juga kendala internal yaitu yang berasal dari dalam diri guru berupa inkonsistensi dalam menanamkan nilai moral kedisiplinan. Sedangkan kendala eksternal yaitu berupa lingkungan yang terkadang kurang mendukung pelaksanaan penanaman nilai moral kedisiplinan dalam pembelajaran. Selain hal diatas rendahnya motivasi belajar siswa siswa juga menjadi kendala dalam penegakkan peraturan tata tertib dan disiplin siswa. Rendahnya motivasi belajar ini mengakibatkan siswa lalai dalam mengumpulkan tugas dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Bagi siswa sendiri, aturan yang ada kadang kala menjadi beban bagi mereka. Aturan sekolah yang ketat tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun, antara sekolah dan siswa. Sebab aturan dan kebiasaan sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Hal lainnya yang juga dirasa menjadi kendala oleh guru dalam penegakkan peraturan tata tertib dan disiplin siswa yang berpengaruh pada pembentukan karakter adalah karena pergantian kurikulum. Pada kurikulum sebelumnya pembelajaran PKn menekankan pada sikap dan moral siswa akan tetapi semenjak berganti kurikulum pembelajaran lebih menekankan pada ranah kognitif atau pengetahuan siswa terhadap bangsa dan negara. 3. Upaya yang dilakukan oleh guru dalam menghadapi kendala yang ada sebagai upaya pembentukan karakter siswa. Banyak upaya yang dilakukan dalam menimalisir kendala yang dihadapi. Guru SMA N I Koto Besar memiliki upaya yang dilakuakn diantaranya: dengan tidak bosan-bosan atau senantiasa untuk mengingatkan siswa untuk selalu taat pada peraturan tata tertib dan disiplin, serta dengan menegur siswa yang telah berbuat pelanggaran. Fuad Ihsan menyatakan sebagai berikut: “bila ada sekelompok siswa yang tampaknya kurang dalam pergaulan maka tugas gurulah memperbaiki sikap mereka. Kepada mereka dimunculkan kesadaran sosialnya. Sebab itu sangat dianjurkan kepada semua pendidik, bila tiba waktu istirahat semua peserta didik harus bermain di halaman, jangan ada yang tinggal di dalam kelas. Demikian juga semua pendidik memencar di halaman untuk memantau tingkah laku dalam hubungan social mereka.” Hal di atas dirasa masih belum maximal pelaksanaannya di SMA N I Koto Besar, tidak semua guru menunjukkan kepeduliannya terhadap siswa, terutama di luar jam pembelajaran, dimana guru sibuk dengan kesibukannya sendiri dan kurang memperhatikan kondisi sosial siswa. Kendala yang ada menyatakan bahwa kesadaran siswa akan pentingnya peraturan dan tata tertib disiplin sebagai upaya pembentukan karakter masih kurang, Hendaknya para guru ikut membantu mereka dalam pergaulannya. Hal ini ditemui di SMA N I Koto Besar, pada jam istirahat siswa masih ada di dalam kelas. Hendaknya para guru saling bekerja sama dalam membimbing siswa dalam pergaulannya. Di SMA N I Koto Besar selaku upaya guru dalam membentuk karakter siswa, sudah mulai diterapkan dalam jenis-jenis pembentukan karakter di sekolah seperti: sebelum pembelajaran dimulai siswa di wajibkan membaca asma ulhusnah, pada siang hari melakukan sholat berjamaah. Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan secara terpadu pada setiap kegiatan sekolah. Setiap aktivitas peserta didik di sekolah dapat digunakan sebagai media untuk menanamkan karakter, mengembangkan konasi, dan memfasilitasi peserta didik berperilaku sesuai nilai-nilai yang berlaku. Setidaknya terdapat dua jalur utama dalam menyelenggarakan pendidikan karakter di sekolah, yaitu (a) terpadu melalui kegiatan Pembelajaran, dan (b) terpadu melalui kegiatan Ekstrakurikuler. Pendidikan karakter secara terpadu di dalam pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Selain hal di atas, adakalanya siswa lupa akan peraturan yang ada, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan guna mengingatkan siswa akan peraturan yang berlaku adalah dengan membuat tabel jenis pelanggaran dan bobot pelanggaran tata tertib disiplin pada buku pembayaran SPP dan juga ditempelkan pada masing-masing kelas, hal ini mampu menimalisir siswa yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan. IV. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Guru dan tim disiplin memiliki peranan dalam penegakkan peraturan dan tata tertib disiplin. Hal ini dapat dilihat dari ikut berpartisipasi dan berperan aktifnya guru dalam penyusunan tata tertib, sosialisasi tata tertib, serta penegakkan tata tertib disiplin. Dalam hal disiplin guru berperan dalam penanaman disiplin siswa dengan selalu meningkatkan dan menerapkan disiplin pada siswa dengan selalu mengingatkan dan menerapkan disiplin pada siswa. Akan tetapi peranan guru dan juga tim disiplin masih harus ditingkatkan lagi, guna menciptakan siswa yang taat hukum dan berdisiplin 2. Kendala yang dirasakan oleh guru terhadap pelanggaran yang terjadi adalah tingginya pengaruh globalisasi saat ini, rendahnya kesadaran siswa akan pentingnya taat hukum dan berlaku disiplin juga menjadi kendala. Selain itu faktor kurang terbiasanya siswa untuk taat hukum dan disiplin pada saat masih SD maupun di rumah juga ikut mempengaruhi siswa dan yang terakhir adalah lingkungan sekitar sekolah yang juga ikut memberikan pengaruh dalam perkembangan sikap siswa. 3. Upaya yang dilakukan oleh guru dalam menghadapi kendala yang ada adalah dengan selalu senantiasa memberikan contoh teladan kepada siswa, serta dengan memberikan teguran kepada siswa yang melanggar, dengan hukuman yang bersifat mendidik, mengadakan forum Annisa sekali dalam seminggu, mengadakan wirid bulanan yang dilaksanakan dua kali dalam satu bulan. Hal ini berguna unutuk membentuk akhlak dan karakter siswa, baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Peraturan yang ada hendaknya dijalankan sebagaimana peraturan dan tata tertib disiplin itu dibuat, sehingga siswa menjadi takut untuk melanggarnya. 2. Apabila terjadi begitu sering pelanggaran tersebut maka sekolah harus meninjau kembali peraturan tersebut, dan dirembukkan kembali solusi yang terbaik terhadap masalah tersebut. 3. Semua guru harus menyadari bahwa tanggung jawab terhadap sikap sikap siswa tidak hanya tanggung jawab tim disiplin saja akan tetapi tanggung jawab semua guru. 4. Di dalam proses pembelajaran juga ditanamkan strategi yang tepat tentang jiwa disiplin dan budaya tertib. V. Pensantunan: Jurnal ini diolah oleh penulis dengan judul “Penerapan Disiplin Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Di Sma Negeri 1 Koto Besar Kabupaten Dharmasraya”. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada kedua orang tua dan rekan-rekan yang telah membantu penulis. DAFTAR RUJUKAN JS. Badudu. 1994. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Ngalim Purwanto. 1994. Ilmu pendidikan teoritis dan praktis. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Rina, Mariana. 2010. “Disiplin Guru dalam mengelola pembelajaran di SMP 4 Payakumbuah”. Skripsi. Padang: Jurusan Administrasi Pendidikan FIP, UNP. Sardiman AM. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo persada. Suyanto dan M. S Abbas. 2001. Wajah dan dinamika pendidikan anak Bangsa. Yogyakarta: Adi cpita karya nusa. Thomas Lickona. 2013. Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media. Zamroni. 2001. Paradigma pendidikan masa depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Artikel jurnal ini telah terbit pada JURPIPAS Jurnal Pendidikan Lembaga Penelitian STKIP-YDB Vol IV, No. 1, Januari-Juni 2015 dengan ISSN 2252-7540 STRUKTUR TEKS DAN ASPEK PENDUKUNG TUTURAN RITUAL MANTRA PENGOBATAN DI KENAGARIAN KOTO BARU KECAMATAN KOTO BARU KABUPATEN DHARMASRAYA Endang Wahyuningsi Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Ahlussunnah Bukittinggi Email: endang_wahyuningsi@ymail.com Abstract This study aimed to describe about structure text utterance ritual spell treatment and proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment in Koto Baru Village, Koto Baru Subdistrict, Dharmasraya Regency. This research uses qualitative approach with descriptive methods. The informants in this study are three people shamans or charmers who owns and uses spell treatment. Data collected by observation techniques, interview, and recording. This research result shows that structure text utterance ritual spell treatment consist of opening section, content section, and closing section. On proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment found (1) time, (2) place, (3) event, (4) doer, (5) equipment, (6) clothes, and (7) rendition of spell. Kata kunci: text structure, supporting aspect, ritual utterences; spells treatment PENDAHULUAN Sastra lisan yang ada di Minangkabau adalah sastra lisan dalam bentuk puisi rakyat berupa mantra. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamaris (2002:10) bahwa mantra adalah puisi yang tertua dalam sastra Minangkabau dan dalam berbagai bahasa daerah lainnya. Selanjutnya, Zaidan (2004:127), menambahkan bahwa mantra adalah puisi melayu lama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, yang biasanya diucapkan oleh pawang atau dukun untuk mempengaruhi kekuatan alam semesta atau binatang. Mantra merupakan aset nasional yang tersimpan dalam kebudayaan daerah yang mencerminkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai tersebut perlu diangkat ke permukaan agar maknanya dapat diserap oleh masyarakat dan juga dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Sebagai kesusastraan tertua, mantra disebarkan dari mulut ke mulut yang mempunyai struktur pembentuk. Menurut Yusuf (2001:15), salah satu unsur pembentuk struktur mantra, yaitu pola kalimat atau konstruksi kalimat. Pola kalimat pada mantra mencakup bagian pembuka, isi, dan penutup. Artinya terdapat kata-kata khusus yang digunakan untuk membuka dan menutup mantra. Lebih lanjut, Yusuf (2001:1) yang meneliti mantra bahasa Aceh menemukan kalimat bismillahirrahmanirrahim sebagai bagian pembuka mantra dan kalimat lailahaillallah sebagai bagian penutup mantra. Mantra itu biasanya digunakan dalam berbagai kesempatan, menurut Medan yang dikutip dalam Djamaris (2002:11), menjelaskan bahwa “Mantra masih digunakan oleh dukun atau pawang dalam masyarakat Minangkabau, antara lain pada waktu memasang tiang utama pembangunan rumah, pada waktu mengobati orang sakit, pada waktu menangkap harimau, menangkap ikan di laut, menahan hujan bila ada kenduri, pada waktu menyemai benih atau pada waktu memulai menanam padi di sawah. Pada waktu membacakan mantra terdapat aspek-aspek pendukung pembacaan mantra, hal ini sesuai dengan pendapat Soedjijono (1987:91-92), bahwa aspek pendukung pembacaan mantra adalah berikut ini. (a) Waktu pembacaan mantra. (b) Tempat pembacaan mantra. (c) Peristiwa atau kesempatan dalam membacakan mantra. (d) Pelaku yang membawakan mantra. (e) Perlengkapan dalam membawakan mantra. (f) Pakaian dalam membawakan mantra. (g) Cara membawakan mantra. Mantra yang digunakan oleh pawang atau dukun untuk berhubungan dengan kekuatan gaib, bukan hanya kepandaian mengucapkan bunyi mantra, akan tetapi melalui proses atau persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh calon dukun atau pawang tersebut. Menurut Soedjijono (1987:100), untuk memiliki kesaktian gaib dalam rangka memiliki mantra, diperlukan sejumlah laku, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu laku sederhana dan laku hidup taprabata. Laku hidup sederhana yang dimaksudkan adalah sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin memiliki kesaktian gaib dalam rangka memiliki mantra. Sifat tersebut, yaitu: setia, sentosa, benar, pintar dan susila. Sedangkan laku hidup tapabrata yaitu persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang calon pawang atau dukun dengan cara mengendalikan hawa nafsu. Mantra pengobatan adalah perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman saat ini, tradisi mantra sudah jarang dipergunakan, bahkan masyarakat modern beranggapan bahwa tradisi mantra sudah kuno, tidak cocok lagi diterapkan dalam masyarakat sekarang. Dengan semakin longgarnya ikatan antara masyarakat modern dengan tradisi lama, maka dikhawatirkan bentuk-bentuk sastra lisan seperti mantra semakin lama semakin tidak diketahui dan tidak digunakan oleh masyarakatnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada saat ini, khususnya pada ilmu kesehatan modern mengakibatkan pengobatan tradisional yang disertai dengan mantra-mantra dianggap masyarakat sebagai upaya pengobatan kuno. Hal ini mengakibatkan keberadaan mantra pengobatan ini mengalami kemunduran di tengah-tengah masyarakat pemiliknya. Tidak terkecuali di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya yang merupakan daerah kabupaten baru yang sedang berkembang. Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui beberapa permasalahan tentang mantra yang harus dikaji. Permasalahan itu antara lain adalah (1) asal-usul mantra, (2) aspek religius yang ada pada mantra, (3) persepsi masyarakat terhadap keberadaan mantra, (4) struktur mantra yang menanyakan struktur teks (isi) mantra, (5) aspek pendukung pembacaan mantra, (6) proses pewarisan mantra. Dengan mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan mantra akan menambah khasanah budaya yang telah terkubur di dalam masyarakat pemiliknya. Bertolak dari kenyataan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya dan mendeskripsikan aspek pendukung pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hal ini sesuai dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) bahwa penelitian kualitatif adalah seperangkat prosedur penelitian yang menghasilkan data-data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang bisa diamati. Senada dengan pendapat di atas, Lofland (dalam Moleong, 2005:157) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan, dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu, maka data dalam penelitan ini adalah tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya yang titik fokusnya pada teks mantra dan aspek pendukung pembacaan mantra tuturan ritual mantra pengobatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berikut ini. (1) Observasi ke lapangan untuk mencari informasi tentang informan yang memenuhi syarat sebagai informan dalam penelitian dan untuk mengetahui mantra-mantra pengobatan apa saja yang sampai saat ini masih terdapat di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, serta untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan kepentingan penelitian. (2) Wawancara, dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan sesuai dengan kepentingan penelitian. (3) Rekam, dengan merekam data lisan yang diucapkan oleh informan. (4) Catat, mencatat semua informasi yang telah didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan rekam tersebut. (5) Verifikasi data, yaitu memisahkan data yang relevan dengan penelitian dan data yang tidak relevan dengan penelitian. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Menurut Moleong (2005:330) teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lain. Teknik penganalisisan data dalam penelitian ini berpedoman pada pendapat Semi (1993:31-32), yaitu pada tahap ini dilakukan analisis data, pemberian interpretasi, dan melakukan deskripsi bagian demi bagian yang ditemukan dalam penelitian. Selanjutnya, dirumuskan kesimpulan umum tentang hasil deskripsi data, dan kemudian memaparkan hasil penelitian secara lengkap dalam bentuk tertulis. Berdasarkan pendapat Semi tersebut, maka analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini. (a) Inventaris data dari beberapa informan melalui teknik observasi, wawancara, dan rekam. (b) Mentranskripsikan data rekam ke dalam data tulis. (c) Mentransliterasikan data ke dalam bahasa Indonesia. (d) Menganalisis mantra berdasarkan aspek yang dikaji. (5) Pemberian interpretasi berdasarkan aspek yang dikaji. PEMBAHASAN Struktur Teks Tuturan Ritual Mantra Pengobatan Pembuka Struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya terdiri atas kalimat pembuka, diantaranya pada mantra milik informan pertama dan informan ketiga, namun pada mantra milik informan kedua tidak ditemukan kalimat pembuka mantra. Kalimat pembuka mantra yang ditemukan menggunakan bahasa arab. Pertama, pada mantra milik informan pertama, yaitu menggunakan kalimat a’uzubillahiminasysyaitha nirrajim, bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah , Subhanallah walhamdulillah wala illahaillah, dan Huallahu akbar. Kedua, pada mantra milik informan ketiga menggunakan kalimat bismillahirrahmanirrahim. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa struktur pembuka mantra ada yang menggunakan kosa kata agama dan ada yang tidak. Jika, dikaitkan dengan mantra yang mengandung unsur magic, maka dapat disimpulkan bahwa struktur pembuka mantra menggunakan kosa kata dalam bidang agama Islam yang dimaksudkan untuk memberikan kesan keberkahan dan keyakinan untuk sembuh dari penyakit. Dengan kata lain, unsur mantra telah dipengaruhi oleh kosa kata di bidang agama khususnya agama Islam. Isi Struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya memiliki bagian isi. Pada semua struktur tuturan ritual mantra pengobatan yang dibacakan oleh ketiga informan memiliki bagian isi. Bagian isi menggunakan kalimat bahasa Minangkabau dan bahasa Arab dan pada umumnya setiap isi yang ada di dalam struktur tuturan ritual mantra pengobatan memiliki maksud dan tujuan tertentu. Untuk lebih jelasnya berikut ini. 1) Mantra (do’a) melihat sebab penyakit Alhamdulillahirabbil a’lamin Arrahmaanirrahim Malikiyau middin Iyya kana’budu wa iyya ka nasta’in Ihdi nashshiratal mustakim Shirathallazi na an’amta a’laihim ghairil maghdu bi a’laihim waladhdhaalin Amin Qulhuwallaahu ahad Allahusshamad Lam yalid wa lam yulad Walam yakullahu kufuan ahad Sturktur isi teks mantra di atas merupakan surat yang terdapat dalam kitab suci Alqur’an, yaitu surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Surat Al-Fatihah merupakan surat pertama yang terdapat dalam Al-quran dan merupakan bacaan wajib di dalam shalat. Selanjutnya, surat Al-Ikhlas merupakan surat yang ke-111 di dalam Al-Qur’an. 2) Mantra pengobatan segala penyakit Hai Jibril A’laihi Salam Hai Israil A’laihi Salam Hai Israfil A’laihi Salam Hai Mikail A’laihi Salam Hai Rakib A’laihi Salam Hai Atib A’laihi Salam Hai Kiraman A’laihi Salam Hai Katibin A’laihi Salam Hai Ridwan A’laihi Salam Hai Malik A’laihi Salam Injil yang penuh mukjizat Taurat yang penuh mukjizat Zabur yang penuh mukjizat Furqan yang penuh mukjizat Alqur’an yang penuh mukjizat Liputi dek engkau batang tubuh aku Punyo tawau Allah Yang mambawo tawau Jibril Yang manawauan Muhammad Struktur isi teks mantra di atas ada tiga. Pertama, pada bagian pertama terdapat nama-nama malaikat yang terdapat dalam kepercayaan agama Islam, dan ada dua nama malaikat yang unik, yang baru diketahui, yaitu Kiraman dan Katibin, yang menurut informan adalah pengganti nama malaikat Mungkar dan Nangkir. Kedua, pada bagian kedua terdapat nama-nama kitab suci yang diakui sebagai mukjizat dari Yang Maha Kuasa, yaitu kitab Injil, Taurat, Zabur, dan Al-qur’an, dan ada satu kitab yang disebutkan dalam mantra tersebut, yaitu kitab Furqon yang menurut informan adalah kitab pembeda antara kitab-kitab suci yang ada sebelum kitab Al-quran yang merupakan kitab akhir zaman. Ketiga, pada bagian ketiga merupakan pernyataan tentang yang memberikan kesembuhan adalah Allah (sang Pencipta), sedangkan yang menjadi perantara adalah jibril, dan yang terakhir sebagai pelaksana atau yang melakukan pengobatan diistilahkan dengan nama Muhammad. 3) Mantra pengobatan penyakit mata O, nek nobi Uyub Nobi gughun nobi Uyub Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek O, nek nobi Liye Nobi umpuik nobi Liye Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek O, nek nobi Lilik Nobi akau nobi Lilik Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek Struktur isi mantra di atas, diawali dengan menyeru atau menyapa nama-nama nabi, baik itu nabi Uyub yang merupakan nama nabi untuk gurun; nabi Liye untuk sebutan nabi rumput; dan nabi Lilik untuk sebutan nabi Akar. Selanjutnya, informan menyatakan bahwa nabi ‘kami’ adalah nabi Muhammad yang merupakan nabi akhir zaman. Kemudian, setiap bagian akhir mantra diucapkan pernyataan bahwa mnegambil obat tersebut dengan menggunakan (basandi bosi) pisau dan parang. 4) Mantra pengobatan penyakit kuro Wahai si kuro Mandi di ulak kubangan Mati lu Matilah kuro Mati ditakan ampu jari Aku tau di asal engkau Di katuban darah di asal engkau Struktur isi mantra pengobatan di atas, diawali dengan menyapa nama penyebab penyakit, yaitu si Kuro. Selanjutnya, dinyatakan bahwa penyakit tersebut diobati dengan menekan empu jari dan sumber penyakit tersebut dikembalikan ke asalnya. Jadi, isi dalam mantra ini, yaitu memaparkan penyebab penyakit, mulai dari mana asalnya, dan cara mengobatinya. Penutup Struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya memiliki bagian penutup. Setelah dianalisis struktur mantra yang dibacakan oleh ketiga informan memiliki kalimat penutup. Kalimat penutup yang ditemukan di dalam struktur tuturan ritual mantra pengobatan yang dibacakan oleh ketiga informan adalah Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah, kun, zat, sifat, oning engkau dalam batang tubuh (bagian mana yang sakit) si Anu (nama orang yang sakit), yo ambeklah, dan yo ambeklah (ya, ambillah) berkat kalimah laillaha illallah. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui tiga hal. Pertama, kalimat penutup pada mantra menggunakan bahasa Arab dan bahasa daerah. Kedua, kalimat penutup pada mantra dengan menyebutkan nama orang yang sedang diobati. Ketiga, terdapat juga pernyatan tersirat bahwa semua hal yang dilakukan dikembalikan kepada Yang Maha Esa. Aspek Pendukung Pembacaan Tuturan Ritual Mantra Pengobatan Waktu Waktu merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam membawakan sebuah mantra. Menurut Soedjijono (1987:93) waktu yang baik untuk membawakan mantra, yaitu pada malam hari, waktu senja atau sore hari, dan waktu pagi hari. Sedangkan menurut Boestami (1985:55) waktu yang baik dalam membawakan mantra adalah petang Jumat, Sabtu, dan Minggu. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang waktu membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, yaitu berikut ini. (1) Menurut informan pertama dan ketiga adalah bebas maksudnya boleh pagi, siang, sore, dan malam yang disesuaikan dengan ada tidaknya orang yang mau berobat, begitu juga dengan hari juga tidak ditentukan. (2) Menurut informan kedua adalah pada pagi, siang, dan sore yang disesuaikan dengan ada tidaknya orang yang mau berobat, serta hari tidak ditentukan. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui dua hal. Pertama, mantra milik informan pertama dan ketiga tidak ada ketentuan waktu yang ditentukan, hanya tergantung pada ada tidaknya orang yang berobat. Kedua, mantra milik informan kedua, dibatasi waktunya, yang tidak dilakukan pada malam hari, hal itu dikarenakan mantra dibacakan langung ketika mengambil bahan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, berbeda dengan informan pertama, yang bahan obat-obatannya disediakan oleh orang yang berobat, sedangkan pada informan ketiga hanya mengandalkan empu jari sebagai media untuk mengobati pasien. Tempat Tempat juga menentukan tercapainya efek spiritual yang diinginkan, menurut Soedjijono (1987:94) tempat membawakan mantra diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: (1) tempat bebas, artinya dapat dibaca dimana saja, di dekat objek atau jauh dari objek, (2) tempat khusus, artinya tempat tertentu yang dikhususkan untuk membacakan mantra, baik tempat atau kamar yang sepi maupun tempat-tempat tertentu, seperti di depan pintu atau di halaman rumah, dan (3) di tempat keperluan artinya di tempat di mana mantra dibaca untuk ditujukan pada objek. Selanjutnya, menurut Boestami (1985:94) tempat yang baik dalam membawakan mantra adalah di mesjid dan di lapangan terbuka. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang tempat membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah bebas dan di tempat keperluan. Tempat bebas maksudnya tempat dalam membawakan mantra tidak ditentukan dengan maksud bahwa mantra dapat dibaca di mana saja, di dekat objek atau jauh dari objek. Selanjutnya, di tempat keperluan artinya mantra dibaca di tempat orang yang sedang sakit atau langsung ditujukan pada objek yang akan dibacakan mantra. Peristiwa Dalam membawakan mantra diperlukan peristiwa-peristiwa khusus dalam membacakan mantra. Menurut Soedjijono (1987:95) peristiwa atau kesempatan dalam membawakan mantra dibagi menjadi dua, yaitu pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan dan pada kesempatan dalam memulai suatu kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang peristiwa dalam membacakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan dan pada kesempatan dalam memulai suatu kegiatan. Pertama, pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan maksudnya informan membacakan mantra pengobatan apabila penyakit orang yang sakit kambuh, misalnya pada penyakit kemasukan setan. Kedua, pada kesempatan dalam memulai kegiatan maksudnya mantra dibacakan sewaktu akan mengobati orang atau mengambil bahan obat-obatan, dan pada waktu manawauan obat. Pelaku Menurut Soedjijono (1987:95-96) mantra dapat dimiliki secara profesional, artinya hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang profesinya sebagai dukun atau pemilik mantra, tetapi dapat pula dimiliki secara tidak profesional. Pertama, mantra yang dimiliki oleh orang-orang yang profesional, sebagian hidupnya ditumpahkan pada pemilikan dan pengalaman mantranya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang memerlukan bantuannya. Kedua, pemilikan secara tidak profesional dapat dilakukan oleh siapa saja, dengan suatu persyaratan yang tidak terlalu berat dan ketat karena pemilikan semacam itu pada umumnya untuk dirinya sendiri atau untuk pengalaman terbatas. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang pelaku dalam membacakan tutran ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah pelaku profesional. Hal ini dapat diketahui karena informan tidak hanya mengobati dirinya sendiri, akan tetapi juga mengobati orang lain. Perlengkapan Dalam membawakan sebuah mantra diperlukan perlengkapan. Perlengkapan tersebut digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan zat yang bersifat gaib. Menurut Soedjijono (1987:96) perlengkapan dalam membawakan mantra antara lain menggunakan kemenyan, sesaji (semacam korban), dupa, air putih. Selanjutnya, menurut Boestami (1985:61) perlengkapan dalam membawakan mantra adalah kemenyan, colok (obor), tabuh (beduk), tasbih, rebana, pendupaan, baskom, pisau siraut, topal (kitab suci Al-qur’an yang ditulis dengan tulisan tangan), dan bedil. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang perlengkapan dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah berbeda pada setiap informan. Informan pertama menggunakan perlengkapan yang pertama untuk melihat sebab penyakit, yaitu dengan menggunakan tasbih, telur ayam, dan jeruk nipis, yang kedua untuk manawauan bahan obat-obatan yang berasal dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhn yang tergantung kepada jenis penyakit yang akan diobati. Selanjutnya, informan kedua menggunakan perlengkapan berupa parang dan pisau, serta setiap pasien yang akan berobat harus memberikan syarat, yaitu sebuah peniti kepada informan. Pada informan ketiga tidak menggunakan perlengkapan, tetapi hanya mengandalkan ibu jari tangannya. Pakaian Pakaian dalam membawakan mantra juga menentukan terkabulnya atau tidaknya dari sebuah efek mantra. Pada suatu upacara religius ada aturan yang ketat dengan pakaian. Bahkan kaum rohaniawan terkadang telah memiliki kostum khusus seperti biksu, kyai, fastur, sehingga kostum itu merupakan salah satu indikator keterlibatan pemakaian pada bidang rohaniawan atau spiritual. Menurut Soedjijono (1987:98) yang perlu diperhatikan dalam membawa mantra adalah pakaian itu bersih, sopan, dan suci. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang pakaian dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan adalah pakaian itu harus bersih, sopan, dan bagi informan lelaki memakai peci, sedangkan informan perempuan memakai tudung (penutup kepala). Cara Membawakan Mantra Cara dalam membawakan mantra sangat menentukan keberhasilan dari mantra yang dibacakan. Cara membawakan mantra memerlukan perhatian yang khusus, sesuai dengan sistem dan aturan yang ditetapkan. Menurut Soedjijono (1987:99) cara membacakan mantra dapat dilakukan dengan cara: sambil menari, sambil menyanyi, dan sikap-sikap tubuh lain yang dianggap sakral (sikap jari, sikap tangan, dan sikap kaki). Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang cara membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah berbeda pada setiap informan. Informan pertama dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan adalah dengan cara duduk dan khusuk. Informan kedua dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan dengan cara berdiri dengan posisi kaki menginjak parang dan pisau di tangan digunakan untuk memotong tumbuh-tumbuhan (bahan obat-obatan), serta membaca tuturan ritual mantra pengobatan sebanyak tiga kali pada setiap bagian struktur mantra. Selanjutnya, informan ketiga dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan dengan cara memasukkan ibu jari kanannya ke dalam mulutnya sampai menyentuh langit-langit atas, baru siap itu diurutkan ibu jarinya ke perut bagian kiri orang yang sakit. PENUTUP Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dari dua aspek, yaitu struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan dan aspek pendukung pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut. Pertama, struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan dikaji dari segi pembuka, isi, dan penutup. Pembuka mantra yang ditemukan pada tuturan ritual mantra pengobatan menggunakan kalimat a’uzubillahiminasysyaitha nirrajim, bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah , Subhanallah walhamdulillah wala illahaillah, dan Huallahu akbar, sedangkan pada bagian isi, pada umumnya isi tuturan ritual mantra pengobatan yang ditemukan menggunakan bahasa Minangkabau dan bahasa Arab yang dalam setiap isi mengandung maksud tertentu. Pada bagian penutup, struktur tuturan ritual mantra pengobatan menggunakan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Minangkabau, yaitu menggunakan kalimat (1) Asyhadu alla illaha illallah,(2) Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah, (3) kun, zat, sifat, oning engkau dalam batang tubuh (bagian mana yang sakit) si Anu (nama orang yang sakit), (4) yo ambeklah, (5) dan berkat kalimah laillaha illallah. Kedua, aspek pendukung dalam pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah sebagai berikut. (1) Waktu dalam membacakan mantra, menurut informan pertama dan ketiga yaitu pagi, siang, sore, dan malam. (2) Tempat membacakan mantra adalah bebas dan ditempat keperluan. Peristiwa dalam membawakan mantra adalah pada kesempatan menghadapi objek dan memulai kegiatan. (3) Pelaku dalam membawakan mantra adalah pemilik profesional. (4) Perlengkapan dalam membawakan mantra adalah bahan-bahan untuk melihat sebab penyakit dan bahan obat-obatan untuk mengobati penyakit, serta parang dan pisau. (5) Pakaian dalam membawakan mantra tidak memiliki kekhasan, namun harus menggunakan pakaian yang bersih, sopan dan bagi informan pertama memakai peci, sedangkan informan kedua dan ketiga memakai tudung (penutup kepala). (6) Cara membawakan mantra oleh masing-masing informan berbeda, yaitu informan pertama dengan cara duduk dengan khusuk, informan kedua dengan cara kaki menginjak parang dan pisau di tangan untuk memotong bahan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan mantra dibaca sebanyak tiga kali, sedangkan informan ketiga membaca mantra dengan cara memasukkan ibu jari tangan yang kanan sampai menyentuh langit-langit atas kemudian mengurutkan ibu jari tangan ke perut bagian kiri sampai ke perut bagian bawah pasien. Kepada masyarakat dan pihak penanggungjawab pelestarian kebudayaan dan kepada pemerintah daerah Kenagarian Koto Baru Kecamata Koto Baru Kabupaten Dharmasraya khususnya dan daerah lain pada umumnya agar mengenal sastra nasional, salah satunya adalah mantra, agar generasi berikutnya dapat memelihara dan melestarikan kebudayaan daerah tersebut. DAFTAR PUSTAKA Boestami, dkk. 1985. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Rakyat Sumatera Barat. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Djamaris, Edwar. 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Moleong, Lexi J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Soedjijono, dkk.1987. Struktur dan Isi Mantra Bahasa Jawa di Jawa Timur. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yusuf, Yusri et. al. 2001. Struktur dan Fungsi Mantra Bahasa Aceh. Jakarta: Pusat Bahasa. Zaidan, Abdul Razak. 2004. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

STRUKTUR TEKS DAN ASPEK PENDUKUNG TUTURAN RITUAL MANTRA PENGOBATAN DI KENAGARIAN KOTO BARU KECAMATAN KOTO BARU KABUPATEN DHARMASRAYA

Artikel jurnal ini telah terbit pada JURPIPAS Jurnal Pendidikan Lembaga Penelitian STKIP-YDB Vol IV, No. 1, Januari-Juni 2015 dengan ISSN 2252-7540 STRUKTUR TEKS DAN ASPEK PENDUKUNG TUTURAN RITUAL MANTRA PENGOBATAN DI KENAGARIAN KOTO BARU KECAMATAN KOTO BARU KABUPATEN DHARMASRAYA Endang Wahyuningsi Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Ahlussunnah Bukittinggi Email: endang_wahyuningsi@ymail.com Abstract This study aimed to describe about structure text utterance ritual spell treatment and proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment in Koto Baru Village, Koto Baru Subdistrict, Dharmasraya Regency. This research uses qualitative approach with descriptive methods. The informants in this study are three people shamans or charmers who owns and uses spell treatment. Data collected by observation techniques, interview, and recording. This research result shows that structure text utterance ritual spell treatment consist of opening section, content section, and closing section. On proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment found (1) time, (2) place, (3) event, (4) doer, (5) equipment, (6) clothes, and (7) rendition of spell. Keyword: text structure, supporting aspect, ritual utterences; spells treatment PENDAHULUAN Sastra lisan yang ada di Minangkabau adalah sastra lisan dalam bentuk puisi rakyat berupa mantra. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamaris (2002:10) bahwa mantra adalah puisi yang tertua dalam sastra Minangkabau dan dalam berbagai bahasa daerah lainnya. Selanjutnya, Zaidan (2004:127), menambahkan bahwa mantra adalah puisi melayu lama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, yang biasanya diucapkan oleh pawang atau dukun untuk mempengaruhi kekuatan alam semesta atau binatang. Mantra merupakan aset nasional yang tersimpan dalam kebudayaan daerah yang mencerminkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai tersebut perlu diangkat ke permukaan agar maknanya dapat diserap oleh masyarakat dan juga dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Sebagai kesusastraan tertua, mantra disebarkan dari mulut ke mulut yang mempunyai struktur pembentuk. Menurut Yusuf (2001:15), salah satu unsur pembentuk struktur mantra, yaitu pola kalimat atau konstruksi kalimat. Pola kalimat pada mantra mencakup bagian pembuka, isi, dan penutup. Artinya terdapat kata-kata khusus yang digunakan untuk membuka dan menutup mantra. Lebih lanjut, Yusuf (2001:1) yang meneliti mantra bahasa Aceh menemukan kalimat bismillahirrahmanirrahim sebagai bagian pembuka mantra dan kalimat lailahaillallah sebagai bagian penutup mantra. Mantra itu biasanya digunakan dalam berbagai kesempatan, menurut Medan yang dikutip dalam Djamaris (2002:11), menjelaskan bahwa “Mantra masih digunakan oleh dukun atau pawang dalam masyarakat Minangkabau, antara lain pada waktu memasang tiang utama pembangunan rumah, pada waktu mengobati orang sakit, pada waktu menangkap harimau, menangkap ikan di laut, menahan hujan bila ada kenduri, pada waktu menyemai benih atau pada waktu memulai menanam padi di sawah. Pada waktu membacakan mantra terdapat aspek-aspek pendukung pembacaan mantra, hal ini sesuai dengan pendapat Soedjijono (1987:91-92), bahwa aspek pendukung pembacaan mantra adalah berikut ini. (a) Waktu pembacaan mantra. (b) Tempat pembacaan mantra. (c) Peristiwa atau kesempatan dalam membacakan mantra. (d) Pelaku yang membawakan mantra. (e) Perlengkapan dalam membawakan mantra. (f) Pakaian dalam membawakan mantra. (g) Cara membawakan mantra. Mantra yang digunakan oleh pawang atau dukun untuk berhubungan dengan kekuatan gaib, bukan hanya kepandaian mengucapkan bunyi mantra, akan tetapi melalui proses atau persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh calon dukun atau pawang tersebut. Menurut Soedjijono (1987:100), untuk memiliki kesaktian gaib dalam rangka memiliki mantra, diperlukan sejumlah laku, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu laku sederhana dan laku hidup taprabata. Laku hidup sederhana yang dimaksudkan adalah sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin memiliki kesaktian gaib dalam rangka memiliki mantra. Sifat tersebut, yaitu: setia, sentosa, benar, pintar dan susila. Sedangkan laku hidup tapabrata yaitu persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang calon pawang atau dukun dengan cara mengendalikan hawa nafsu. Mantra pengobatan adalah perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman saat ini, tradisi mantra sudah jarang dipergunakan, bahkan masyarakat modern beranggapan bahwa tradisi mantra sudah kuno, tidak cocok lagi diterapkan dalam masyarakat sekarang. Dengan semakin longgarnya ikatan antara masyarakat modern dengan tradisi lama, maka dikhawatirkan bentuk-bentuk sastra lisan seperti mantra semakin lama semakin tidak diketahui dan tidak digunakan oleh masyarakatnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada saat ini, khususnya pada ilmu kesehatan modern mengakibatkan pengobatan tradisional yang disertai dengan mantra-mantra dianggap masyarakat sebagai upaya pengobatan kuno. Hal ini mengakibatkan keberadaan mantra pengobatan ini mengalami kemunduran di tengah-tengah masyarakat pemiliknya. Tidak terkecuali di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya yang merupakan daerah kabupaten baru yang sedang berkembang. Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui beberapa permasalahan tentang mantra yang harus dikaji. Permasalahan itu antara lain adalah (1) asal-usul mantra, (2) aspek religius yang ada pada mantra, (3) persepsi masyarakat terhadap keberadaan mantra, (4) struktur mantra yang menanyakan struktur teks (isi) mantra, (5) aspek pendukung pembacaan mantra, (6) proses pewarisan mantra. Dengan mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan mantra akan menambah khasanah budaya yang telah terkubur di dalam masyarakat pemiliknya. Bertolak dari kenyataan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya dan mendeskripsikan aspek pendukung pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hal ini sesuai dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) bahwa penelitian kualitatif adalah seperangkat prosedur penelitian yang menghasilkan data-data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang bisa diamati. Senada dengan pendapat di atas, Lofland (dalam Moleong, 2005:157) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan, dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu, maka data dalam penelitan ini adalah tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya yang titik fokusnya pada teks mantra dan aspek pendukung pembacaan mantra tuturan ritual mantra pengobatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berikut ini. (1) Observasi ke lapangan untuk mencari informasi tentang informan yang memenuhi syarat sebagai informan dalam penelitian dan untuk mengetahui mantra-mantra pengobatan apa saja yang sampai saat ini masih terdapat di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, serta untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan kepentingan penelitian. (2) Wawancara, dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan sesuai dengan kepentingan penelitian. (3) Rekam, dengan merekam data lisan yang diucapkan oleh informan. (4) Catat, mencatat semua informasi yang telah didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan rekam tersebut. (5) Verifikasi data, yaitu memisahkan data yang relevan dengan penelitian dan data yang tidak relevan dengan penelitian. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Menurut Moleong (2005:330) teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lain. Teknik penganalisisan data dalam penelitian ini berpedoman pada pendapat Semi (1993:31-32), yaitu pada tahap ini dilakukan analisis data, pemberian interpretasi, dan melakukan deskripsi bagian demi bagian yang ditemukan dalam penelitian. Selanjutnya, dirumuskan kesimpulan umum tentang hasil deskripsi data, dan kemudian memaparkan hasil penelitian secara lengkap dalam bentuk tertulis. Berdasarkan pendapat Semi tersebut, maka analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini. (a) Inventaris data dari beberapa informan melalui teknik observasi, wawancara, dan rekam. (b) Mentranskripsikan data rekam ke dalam data tulis. (c) Mentransliterasikan data ke dalam bahasa Indonesia. (d) Menganalisis mantra berdasarkan aspek yang dikaji. (5) Pemberian interpretasi berdasarkan aspek yang dikaji. PEMBAHASAN Struktur Teks Tuturan Ritual Mantra Pengobatan Pembuka Struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya terdiri atas kalimat pembuka, diantaranya pada mantra milik informan pertama dan informan ketiga, namun pada mantra milik informan kedua tidak ditemukan kalimat pembuka mantra. Kalimat pembuka mantra yang ditemukan menggunakan bahasa arab. Pertama, pada mantra milik informan pertama, yaitu menggunakan kalimat a’uzubillahiminasysyaitha nirrajim, bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah , Subhanallah walhamdulillah wala illahaillah, dan Huallahu akbar. Kedua, pada mantra milik informan ketiga menggunakan kalimat bismillahirrahmanirrahim. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa struktur pembuka mantra ada yang menggunakan kosa kata agama dan ada yang tidak. Jika, dikaitkan dengan mantra yang mengandung unsur magic, maka dapat disimpulkan bahwa struktur pembuka mantra menggunakan kosa kata dalam bidang agama Islam yang dimaksudkan untuk memberikan kesan keberkahan dan keyakinan untuk sembuh dari penyakit. Dengan kata lain, unsur mantra telah dipengaruhi oleh kosa kata di bidang agama khususnya agama Islam. Isi Struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya memiliki bagian isi. Pada semua struktur tuturan ritual mantra pengobatan yang dibacakan oleh ketiga informan memiliki bagian isi. Bagian isi menggunakan kalimat bahasa Minangkabau dan bahasa Arab dan pada umumnya setiap isi yang ada di dalam struktur tuturan ritual mantra pengobatan memiliki maksud dan tujuan tertentu. Untuk lebih jelasnya berikut ini. Mantra (do’a) melihat sebab penyakit Alhamdulillahirabbil a’lamin Arrahmaanirrahim Malikiyau middin Iyya kana’budu wa iyya ka nasta’in Ihdi nashshiratal mustakim Shirathallazi na an’amta a’laihim ghairil maghdu bi a’laihim waladhdhaalin Amin Qulhuwallaahu ahad Allahusshamad Lam yalid wa lam yulad Walam yakullahu kufuan ahad Sturktur isi teks mantra di atas merupakan surat yang terdapat dalam kitab suci Alqur’an, yaitu surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Surat Al-Fatihah merupakan surat pertama yang terdapat dalam Al-quran dan merupakan bacaan wajib di dalam shalat. Selanjutnya, surat Al-Ikhlas merupakan surat yang ke-111 di dalam Al-Qur’an. Mantra pengobatan segala penyakit Hai Jibril A’laihi Salam Hai Israil A’laihi Salam Hai Israfil A’laihi Salam Hai Mikail A’laihi Salam Hai Rakib A’laihi Salam Hai Atib A’laihi Salam Hai Kiraman A’laihi Salam Hai Katibin A’laihi Salam Hai Ridwan A’laihi Salam Hai Malik A’laihi Salam Injil yang penuh mukjizat Taurat yang penuh mukjizat Zabur yang penuh mukjizat Furqan yang penuh mukjizat Alqur’an yang penuh mukjizat Liputi dek engkau batang tubuh aku Punyo tawau Allah Yang mambawo tawau Jibril Yang manawauan Muhammad Struktur isi teks mantra di atas ada tiga. Pertama, pada bagian pertama terdapat nama-nama malaikat yang terdapat dalam kepercayaan agama Islam, dan ada dua nama malaikat yang unik, yang baru diketahui, yaitu Kiraman dan Katibin, yang menurut informan adalah pengganti nama malaikat Mungkar dan Nangkir. Kedua, pada bagian kedua terdapat nama-nama kitab suci yang diakui sebagai mukjizat dari Yang Maha Kuasa, yaitu kitab Injil, Taurat, Zabur, dan Al-qur’an, dan ada satu kitab yang disebutkan dalam mantra tersebut, yaitu kitab Furqon yang menurut informan adalah kitab pembeda antara kitab-kitab suci yang ada sebelum kitab Al-quran yang merupakan kitab akhir zaman. Ketiga, pada bagian ketiga merupakan pernyataan tentang yang memberikan kesembuhan adalah Allah (sang Pencipta), sedangkan yang menjadi perantara adalah jibril, dan yang terakhir sebagai pelaksana atau yang melakukan pengobatan diistilahkan dengan nama Muhammad. Mantra pengobatan penyakit mata O, nek nobi Uyub Nobi gughun nobi Uyub Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek O, nek nobi Liye Nobi umpuik nobi Liye Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek O, nek nobi Lilik Nobi akau nobi Lilik Nobi kami nobi Muhammad Kami nak mintak ubek Ubek si anu namo e Maambek e basondi bosi nek Struktur isi mantra di atas, diawali dengan menyeru atau menyapa nama-nama nabi, baik itu nabi Uyub yang merupakan nama nabi untuk gurun; nabi Liye untuk sebutan nabi rumput; dan nabi Lilik untuk sebutan nabi Akar. Selanjutnya, informan menyatakan bahwa nabi ‘kami’ adalah nabi Muhammad yang merupakan nabi akhir zaman. Kemudian, setiap bagian akhir mantra diucapkan pernyataan bahwa mnegambil obat tersebut dengan menggunakan (basandi bosi) pisau dan parang. Mantra pengobatan penyakit kuro Wahai si kuro Mandi di ulak kubangan Mati lu Matilah kuro Mati ditakan ampu jari Aku tau di asal engkau Di katuban darah di asal engkau Struktur isi mantra pengobatan di atas, diawali dengan menyapa nama penyebab penyakit, yaitu si Kuro. Selanjutnya, dinyatakan bahwa penyakit tersebut diobati dengan menekan empu jari dan sumber penyakit tersebut dikembalikan ke asalnya. Jadi, isi dalam mantra ini, yaitu memaparkan penyebab penyakit, mulai dari mana asalnya, dan cara mengobatinya. Penutup Struktur tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya memiliki bagian penutup. Setelah dianalisis struktur mantra yang dibacakan oleh ketiga informan memiliki kalimat penutup. Kalimat penutup yang ditemukan di dalam struktur tuturan ritual mantra pengobatan yang dibacakan oleh ketiga informan adalah Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah, kun, zat, sifat, oning engkau dalam batang tubuh (bagian mana yang sakit) si Anu (nama orang yang sakit), yo ambeklah, dan yo ambeklah (ya, ambillah) berkat kalimah laillaha illallah. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui tiga hal. Pertama, kalimat penutup pada mantra menggunakan bahasa Arab dan bahasa daerah. Kedua, kalimat penutup pada mantra dengan menyebutkan nama orang yang sedang diobati. Ketiga, terdapat juga pernyatan tersirat bahwa semua hal yang dilakukan dikembalikan kepada Yang Maha Esa. Aspek Pendukung Pembacaan Tuturan Ritual Mantra Pengobatan Waktu Waktu merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam membawakan sebuah mantra. Menurut Soedjijono (1987:93) waktu yang baik untuk membawakan mantra, yaitu pada malam hari, waktu senja atau sore hari, dan waktu pagi hari. Sedangkan menurut Boestami (1985:55) waktu yang baik dalam membawakan mantra adalah petang Jumat, Sabtu, dan Minggu. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang waktu membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, yaitu berikut ini. (1) Menurut informan pertama dan ketiga adalah bebas maksudnya boleh pagi, siang, sore, dan malam yang disesuaikan dengan ada tidaknya orang yang mau berobat, begitu juga dengan hari juga tidak ditentukan. (2) Menurut informan kedua adalah pada pagi, siang, dan sore yang disesuaikan dengan ada tidaknya orang yang mau berobat, serta hari tidak ditentukan. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui dua hal. Pertama, mantra milik informan pertama dan ketiga tidak ada ketentuan waktu yang ditentukan, hanya tergantung pada ada tidaknya orang yang berobat. Kedua, mantra milik informan kedua, dibatasi waktunya, yang tidak dilakukan pada malam hari, hal itu dikarenakan mantra dibacakan langung ketika mengambil bahan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, berbeda dengan informan pertama, yang bahan obat-obatannya disediakan oleh orang yang berobat, sedangkan pada informan ketiga hanya mengandalkan empu jari sebagai media untuk mengobati pasien. Tempat Tempat juga menentukan tercapainya efek spiritual yang diinginkan, menurut Soedjijono (1987:94) tempat membawakan mantra diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: (1) tempat bebas, artinya dapat dibaca dimana saja, di dekat objek atau jauh dari objek, (2) tempat khusus, artinya tempat tertentu yang dikhususkan untuk membacakan mantra, baik tempat atau kamar yang sepi maupun tempat-tempat tertentu, seperti di depan pintu atau di halaman rumah, dan (3) di tempat keperluan artinya di tempat di mana mantra dibaca untuk ditujukan pada objek. Selanjutnya, menurut Boestami (1985:94) tempat yang baik dalam membawakan mantra adalah di mesjid dan di lapangan terbuka. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang tempat membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah bebas dan di tempat keperluan. Tempat bebas maksudnya tempat dalam membawakan mantra tidak ditentukan dengan maksud bahwa mantra dapat dibaca di mana saja, di dekat objek atau jauh dari objek. Selanjutnya, di tempat keperluan artinya mantra dibaca di tempat orang yang sedang sakit atau langsung ditujukan pada objek yang akan dibacakan mantra. Peristiwa Dalam membawakan mantra diperlukan peristiwa-peristiwa khusus dalam membacakan mantra. Menurut Soedjijono (1987:95) peristiwa atau kesempatan dalam membawakan mantra dibagi menjadi dua, yaitu pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan dan pada kesempatan dalam memulai suatu kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang peristiwa dalam membacakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan dan pada kesempatan dalam memulai suatu kegiatan. Pertama, pada kesempatan menghadapi objek atau mengalami suatu keadaan maksudnya informan membacakan mantra pengobatan apabila penyakit orang yang sakit kambuh, misalnya pada penyakit kemasukan setan. Kedua, pada kesempatan dalam memulai kegiatan maksudnya mantra dibacakan sewaktu akan mengobati orang atau mengambil bahan obat-obatan, dan pada waktu manawauan obat. Pelaku Menurut Soedjijono (1987:95-96) mantra dapat dimiliki secara profesional, artinya hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang profesinya sebagai dukun atau pemilik mantra, tetapi dapat pula dimiliki secara tidak profesional. Pertama, mantra yang dimiliki oleh orang-orang yang profesional, sebagian hidupnya ditumpahkan pada pemilikan dan pengalaman mantranya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang memerlukan bantuannya. Kedua, pemilikan secara tidak profesional dapat dilakukan oleh siapa saja, dengan suatu persyaratan yang tidak terlalu berat dan ketat karena pemilikan semacam itu pada umumnya untuk dirinya sendiri atau untuk pengalaman terbatas. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang pelaku dalam membacakan tutran ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah pelaku profesional. Hal ini dapat diketahui karena informan tidak hanya mengobati dirinya sendiri, akan tetapi juga mengobati orang lain. Perlengkapan Dalam membawakan sebuah mantra diperlukan perlengkapan. Perlengkapan tersebut digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan zat yang bersifat gaib. Menurut Soedjijono (1987:96) perlengkapan dalam membawakan mantra antara lain menggunakan kemenyan, sesaji (semacam korban), dupa, air putih. Selanjutnya, menurut Boestami (1985:61) perlengkapan dalam membawakan mantra adalah kemenyan, colok (obor), tabuh (beduk), tasbih, rebana, pendupaan, baskom, pisau siraut, topal (kitab suci Al-qur’an yang ditulis dengan tulisan tangan), dan bedil. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang perlengkapan dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah berbeda pada setiap informan. Informan pertama menggunakan perlengkapan yang pertama untuk melihat sebab penyakit, yaitu dengan menggunakan tasbih, telur ayam, dan jeruk nipis, yang kedua untuk manawauan bahan obat-obatan yang berasal dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhn yang tergantung kepada jenis penyakit yang akan diobati. Selanjutnya, informan kedua menggunakan perlengkapan berupa parang dan pisau, serta setiap pasien yang akan berobat harus memberikan syarat, yaitu sebuah peniti kepada informan. Pada informan ketiga tidak menggunakan perlengkapan, tetapi hanya mengandalkan ibu jari tangannya. Pakaian Pakaian dalam membawakan mantra juga menentukan terkabulnya atau tidaknya dari sebuah efek mantra. Pada suatu upacara religius ada aturan yang ketat dengan pakaian. Bahkan kaum rohaniawan terkadang telah memiliki kostum khusus seperti biksu, kyai, fastur, sehingga kostum itu merupakan salah satu indikator keterlibatan pemakaian pada bidang rohaniawan atau spiritual. Menurut Soedjijono (1987:98) yang perlu diperhatikan dalam membawa mantra adalah pakaian itu bersih, sopan, dan suci. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang pakaian dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan adalah pakaian itu harus bersih, sopan, dan bagi informan lelaki memakai peci, sedangkan informan perempuan memakai tudung (penutup kepala). Cara Membawakan Mantra Cara dalam membawakan mantra sangat menentukan keberhasilan dari mantra yang dibacakan. Cara membawakan mantra memerlukan perhatian yang khusus, sesuai dengan sistem dan aturan yang ditetapkan. Menurut Soedjijono (1987:99) cara membacakan mantra dapat dilakukan dengan cara: sambil menari, sambil menyanyi, dan sikap-sikap tubuh lain yang dianggap sakral (sikap jari, sikap tangan, dan sikap kaki). Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga informan tentang cara membawakan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah berbeda pada setiap informan. Informan pertama dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan adalah dengan cara duduk dan khusuk. Informan kedua dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan dengan cara berdiri dengan posisi kaki menginjak parang dan pisau di tangan digunakan untuk memotong tumbuh-tumbuhan (bahan obat-obatan), serta membaca tuturan ritual mantra pengobatan sebanyak tiga kali pada setiap bagian struktur mantra. Selanjutnya, informan ketiga dalam membawakan tuturan ritual mantra pengobatan dengan cara memasukkan ibu jari kanannya ke dalam mulutnya sampai menyentuh langit-langit atas, baru siap itu diurutkan ibu jarinya ke perut bagian kiri orang yang sakit. PENUTUP Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dari dua aspek, yaitu struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan dan aspek pendukung pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut. Pertama, struktur teks tuturan ritual mantra pengobatan dikaji dari segi pembuka, isi, dan penutup. Pembuka mantra yang ditemukan pada tuturan ritual mantra pengobatan menggunakan kalimat a’uzubillahiminasysyaitha nirrajim, bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu alla illaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah , Subhanallah walhamdulillah wala illahaillah, dan Huallahu akbar, sedangkan pada bagian isi, pada umumnya isi tuturan ritual mantra pengobatan yang ditemukan menggunakan bahasa Minangkabau dan bahasa Arab yang dalam setiap isi mengandung maksud tertentu. Pada bagian penutup, struktur tuturan ritual mantra pengobatan menggunakan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Minangkabau, yaitu menggunakan kalimat (1) Asyhadu alla illaha illallah,(2) Wa asyhadu anna muhammadar rasulullaah, (3) kun, zat, sifat, oning engkau dalam batang tubuh (bagian mana yang sakit) si Anu (nama orang yang sakit), (4) yo ambeklah, (5) dan berkat kalimah laillaha illallah. Kedua, aspek pendukung dalam pembacaan tuturan ritual mantra pengobatan di Kenagarian Koto Baru Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya adalah sebagai berikut. (1) Waktu dalam membacakan mantra, menurut informan pertama dan ketiga yaitu pagi, siang, sore, dan malam. (2) Tempat membacakan mantra adalah bebas dan ditempat keperluan. Peristiwa dalam membawakan mantra adalah pada kesempatan menghadapi objek dan memulai kegiatan. (3) Pelaku dalam membawakan mantra adalah pemilik profesional. (4) Perlengkapan dalam membawakan mantra adalah bahan-bahan untuk melihat sebab penyakit dan bahan obat-obatan untuk mengobati penyakit, serta parang dan pisau. (5) Pakaian dalam membawakan mantra tidak memiliki kekhasan, namun harus menggunakan pakaian yang bersih, sopan dan bagi informan pertama memakai peci, sedangkan informan kedua dan ketiga memakai tudung (penutup kepala). (6) Cara membawakan mantra oleh masing-masing informan berbeda, yaitu informan pertama dengan cara duduk dengan khusuk, informan kedua dengan cara kaki menginjak parang dan pisau di tangan untuk memotong bahan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan mantra dibaca sebanyak tiga kali, sedangkan informan ketiga membaca mantra dengan cara memasukkan ibu jari tangan yang kanan sampai menyentuh langit-langit atas kemudian mengurutkan ibu jari tangan ke perut bagian kiri sampai ke perut bagian bawah pasien. Kepada masyarakat dan pihak penanggungjawab pelestarian kebudayaan dan kepada pemerintah daerah Kenagarian Koto Baru Kecamata Koto Baru Kabupaten Dharmasraya khususnya dan daerah lain pada umumnya agar mengenal sastra nasional, salah satunya adalah mantra, agar generasi berikutnya dapat memelihara dan melestarikan kebudayaan daerah tersebut. DAFTAR PUSTAKA Boestami, dkk. 1985. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Rakyat Sumatera Barat. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Djamaris, Edwar. 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Moleong, Lexi J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Soedjijono, dkk.1987. Struktur dan Isi Mantra Bahasa Jawa di Jawa Timur. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yusuf, Yusri et. al. 2001. Struktur dan Fungsi Mantra Bahasa Aceh. Jakarta: Pusat Bahasa. Zaidan, Abdul Razak. 2004. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Jurnal Penelitian

STRUKTUR TEKS DAN ASPEK PENDUKUNG TUTURAN RITUAL MANTRA PENGOBATAN DI KENAGARIAN KOTO BARU KECAMATAN KOTO BARU KABUPATEN DHARMASRAYA Endang Wahyuningsi email: endang_wahyuningsi@ymail.com Abstract This study aimed to describe about structure text utterance ritual spell treatment and proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment in Koto Baru Village, Koto Baru Subdistrict, Dharmasraya Regency. This research uses qualitative approach with descriptive methods. The informants in this study are three people shamans or charmers who owns and uses spell treatment. Data collected by observation techniques, interview, and recording. This research result shows that structure text utterance ritual spell treatment consist of opening section, content section, and closing section. On proponent aspects of reading utterance ritual spell treatment found (1) time, (2) place, (3) event, (4) doer, (5) equipment, (6) clothes, and (7) rendition of spell. Kata kunci: text structure, supporting aspect, ritual utterences; spells treatment Catatan:Jurnal Ini telah terbit di JURPIPAS Jurnal Pendidikan ISSN 2252-7540

Waspada

gemuru yang mulai lenyap
di saat purnama mulai memuncak
sepi, diam, dan tanpa rona
bahasa yang tak dipahami

jiwa bertanya-tanya
adakah asa yang kan kandas
tiada hari tanpa bertanya
tanya dan tanya dalam jiwa

sesaat semua kan jadi nyata
bulan purnama yang kan menyusut
waktu ku belum usai
saat semua jadi nyata
WASPADA

Sajak Rindu

di sini, di sudut kota ini
ku berharap, kau kan menjamputku
mengatakan cintamu
menepati janjimu

sampai detik ini, ku masih merindukanmu "Casuaku"

Sajak Oktober

Pagi ini kududuk sendiri
di bangku taman pustaka
angin membelai wajahku
seraya berkata "Selamat pagi Gadisku"

Taman yang dulu Indah
semakin indah, saat kau menghampiriku
wajahku yang sayu seraya panas seperti mentari terik di siang hari
inikah asmara lama yang mulai hadir?
di saat semua hampa mulai beranjak indah

RETORIKA MODERN

RETORIKA

Retorika Modern Pendekatan Praktis
Karya
Jalalluddin Rahkmat



BAB IV
TAHAP PENYAMPAIAN PIDATO

            Kecemasan berkomunikasi adalah batu sandungan yang besar bagi pembicara. Kecemasan berkomunikasi menghilangkan kepercayaan diri. Kecemesan berkomunikasi amat mempengaruhi kredibilitas komunikator. Betapa pun bagusnya pesan yang Anda sampaikan, betapa pun sistematismenya organisasi pesan yang Anda buat, tanpa kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda akan kehilangan pengaruh dan pendengar sekaligus.
A.  Membangun Kepercayaan Diri dan Kredibilitas
1.    Kecemasan Berkomunikasi: Diagnosis
            Banyak istilah digunakan untuk menamai gejala ini; demam panggung (stage fright), kecemasan bicara (speech anxiety), atau yang lebih umum stres kerja (performance stress). Misalnya, seseorang yang cemas ketika akan diwawancarai. Berikut ini daftar gejala yang dirasakan mereka:
a.    detak jantung yang cepat
b.    telapak tangan atau punggung berkeringat
c.    napas terengah-engah
d.   mulut kering dan sukar menelan
e.    ketegangan otot dada, tangan, leher, dan kaki
f.     tangan atau kaki bergetar
g.    suara bergetar dan parau
h.    berbicara cepat dan tidak jelas
i.      tidak sanggup mendengar atau konsentrasi
j.      lupa atau ingatan hilang
Menurut para psikolog, semua gejala itu adalah reaksi alamiah kepada ancaman. Perilaku yang didaftar di atas itu disebut sebagai sindrom mekanisme penyesuaian (general adaptation syndromes).
2.    Sebab-sebab Kecemasan Komunikasi
            Orang mengalami kecemasan komunikasi (untuk selanjutnya disebut KK) karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
a.    Tidak tahu apa yang harus dilakukan, maksudnya ia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan. Maka, di sinilah pentingnya pengetahuan tentang retorika.
b.    Orang menghindari KK karena tahu akan dinilai.
c.    KK dapat menimpa bukan pemula, bahkan mungkin orang-orang yang terkenal sebagai pembicara yang baik.

3.    Metode Mengendalikan KK
            Ada dua metode pengendalian KK. Pertama, metode jangka panjang, yaitu ketika kita secara berangsur-angsur mengembangkan keterampilan mengendalikan KK dengan tiga sebab di atas. Kedua, metode jangka pendek, yaitu ketika kita harus segera mengendalikan KK pada waktu (atau sebelum) menyampaikan pidato. Dengan demikian, metode pertama maksudnya proses belajar yang panjang, sedangkan yang kedua adalah pintu darurat (emergency door) ketika akan berpidato.
            Rudolph E Busby dan Randall E. Majors (dalam Rakhmat, 2006:70), memberikan “resep” yang disebut metode jangka pendek, yaitu sebagai berikut.
a.       Hadapilah gejalah dengan teknik-teknik relaksasi.
b.      Tanamkan keberanian dan tersenyum kepada audien.
c.       Memancing respon hadirin pada permulaan bicara.

4.    Komponen-komponen Kredibilitas
Apa yang disebut ethos oleh Aristoteles, dinamakan kredibilitas oleh pakar komunikasi sekarang. Kredibilitas yang timbul selama pembicara pidato disebut dengan derived credibility, sedangkan akhir dari kredibilitas disebut dengan terminal credibility. Kredibilitas tidak melekat pada diri pembicara. Kredibilas terletak pada persepsi khalayak tentang pembicara.
Kredibilitas itu berdasarkan persepsi khalayak tentang komunikator, jadi kredibilitas dapat dibentuk atau dibangun. Kita dapat membangun kredibilitas pembicara dari informasi yang kita peroleh dari orang atau sahabat, media massa atau sumber-sumber yang dapat dipercaya, dan dari pengamatan langsung  terhadap komunikator. Seorang komunikator juga bisa membangun kredibilitasnya dengan meminta bantuan orang lain; “merekayasa”.
5.    Membangun Kredibilitas
Menurut Rahkmat (2006:73), ada lima komponen dalam membangun kredibilitas, yaitu sebagai berikut.
a.    Otoritas, maksudnya pembicara memiliki keahlian tentang apa yang diutarakannya.
b.    Good sense, maksudnnya pembicara memperlakukan pendengar sebagai rekan, saudara, atau mitra dalam mencari kebenaran.
c.    Good character, maksudnya pembicara memiliki akhlak yang baik (kejujuran, integritas, dan ketulusan).
d.   Good will, maksudnya pembicara berasumsi bahwa ia adalah bagian dari pendengar.
e.    Dinamisme, maksudnya pembicara menampakkan ekspresi fisikal dari komitmen psikologis yang sesuai dengan topik.
Selanjutnya, Rakhmat (2006:76), menyatakan secara singkat, bahwa dalam membangun kredibilitas, kita perlu mengetahui bagaimana orang lain menilai kita. Kredibilitas adalah hasil penilaian orang lain tentang diri kita, setelah mereka menerima informasi tentang kita langsung atau tidak. Glenn R. Capp dan G. Richard Capp, Jr. Dalam Basic Oral Communication (dalam Rakhmat, 2006:76) menjelaskan bagaimana Anda dinilai orang lain, yaitu sebagai berikut.
a.    Anda dinilai antara lain dari reputasi yang mendahului Anda.
b.    Anda dinilai antara lain dari perkenalan tentang Anda.
c.    Anda dinilai antara lain dari apa yang Anda ucapkan.
d.   Anda dinilai dari cara Anda berkomunikasi.
e.    Anda dinilai dari pernyataan-pernyataan yang menyatakan ethos.

B.  PRINSIP-PRINSIP PENYAMPAIAN PIDATO
Menurut Rahkmat (2006:78) semua orang dapat menyampaikan pidato dengan baik apabila mereka mengetahui dan mempraktekkan tiga prinsip panyampaian pidato, yaitu sebagai berikut.
1.    Pelihara kontak visual dan kontak mental dengan khalayak (kontak).
2.    Gunakan lambang-lambang auditif atau usahakan agar suara Anda memberikan makna yang lebih kaya pada bahasa Anda (olah vokal).
3.    Berbicaralah dengan seluruh kepribadian Anda dengan wajah, tangan, dan tubuh Anda (olah visual).








BAB V
PIDATO INFORMATIF

Pidato informatif bertujuan untuk menyampaikan informasi. Khalayak diharapkan mengetahui, mengerti, menyampaikan informasi itu. Ehninger, Monreo, dan Gronbeck (dalam Rahkmat) menyebutkan ada tiga macam pidato informatif, yaitu oral reports (laporan lisan), oral instruction (pengajaran), dan informative Lecture (kuliah). Namun, apapun jenisnya, pidato informatif merupakan upaya untuk menanamkan pengertian. Oleh karena itu, secara keseluruhan pidato informatif harus jelas, logis, dan sistematis. Dalam bab ini akan membicarakan pidato informatif dari segi isi pesan, organisasi pesan, teknik pengembangan bahasan, dan teknik penyajian.
A.  Isi Pesan
Supaya isi pesan itu mudah dipahami dan mudah diingat, Ehninger dkk. (dalam Rahkmat, 2006:89-91) Menyarankan hal-hal berikut.
1.      Gagasan utama tidak boleh terlalu banyak.
2.      Jelaskanlah istilah-istilah yang aneh dan kabur.
3.      Atur kecepatan menyajikan informasi.
4.      Jelaskan perpindahan pokok pembicaraan.
5.      Gunakan data konkret – jaringan abstrak.
6.      Hubungan yang tidak diketahui dengan yang diketahui.
7.      Masukkan bahan-bahan yang menarik perhatian.

B.  Organisasi Pesan
Menurut Monreo (dalam Rahkmat, 2006:92) pidato informatif hanya mempunyai tiga tahap, yaitu perhatian, kebutuhan, dan pemuasan. Berikut uraian lebih rinci mengenai ketiga hal ini.
1.    Tahap Perhatian
Pada tahap ini Anda harus menarik perhatian pendengar. Anda harus memusatkan perhatian yang terbagi kepada pokok bahasan yang Anda sampaikan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada tahap perhatian, yaitu menarik perhatian, menunjukkan topik, menghubungkan topik dengan pendengar, membangun kredibilitas, dan menjelaskan susunan pembicaraan (semacam “Daftar Acara” untuk pidato Anda).

2.    Tahap Kebutuhan
Pada tahap kebutuhan, Anda menjelaskan mengapa informasi yang akan Anda sampaikan itu penting bagi khalayak. Mengapa mereka perlu mengetahuinya. Bagi khalayak yang baru pertama kali mendengar topik, maka pembicara melakukanlah empat cara, yaitu sebagai berikut.
a.    Pernyataan, tunjukkan pentingnya pokok bahasan dan perlihatkan bagaimana mereka perlu lebih banyak tahu tentang pokok tersebut.
b.   Ilustrasi, berikan beberapa contoh, permisalan, anekdot yang menonjolkan kebutuhan pendengar.
c.    Peneguhan, sajikan fakta, angka, dan kutipan tambahan untuk lebih meyakinkan pendengar.
d.   Penunjukan, perlihatkan bahwa pokok pembicaraan berkaitan dengan kepentingan, kesejahteraan, dan keberhasilan khalayak.

3.    Tahap Pemuasan
Tahap ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
a.    Ikhtisar pendahuluan berisi pokok-pokok pembicaraan yang akan disampaikan kepada khalayak yang bertujuan untuk membantu khalayak memperoleh gambaran menyeluruh tentang isi pembicaraan kita.
b.   Informasi terinci berupa ulasan tentang pokok-pokok pembicaraan yang dijelaskan satu per satu.
c.    Ikhtisar akhir berupa penyebutan kembali hal-hal yang sudah Anda bicarakan.

C.  Teknik Pengembangan Bahasan
Dalam memilih teknik-teknik pengembangan bahasan, ada dua faktor penting, yaitu faktor informatif dan faktor penarik perhatian. Dengan kata lain, pesan yang disajikan harus kaya dengan informasi dan dapat menarik perhatian. Secara singkat Rahkmat (2006:94) mengutif Rudolph E. Busby dan Randall E. Majors menyatakan teknik pengembangan bahasan, yaitu sebagai berikut.
1.    Menarik Perhatian
a.    Gunakan hentian panjang untuk memusatkan perhatian
b.    Ajukan pertanyaan retoris
c.    Pancing jawaban dari pendengar
d.   Kutip statistik yang mengejutkan
e.    Ceritakan kisah atau anekdot
f.     Buat humor
2.    Mengumumkan Topik
a.    Sebutkan topik secara langsung
b.    Dekati topik secara tidak langsung dari cerita hipotesis
3.    Menegaskan Relevansi
a.    Menjelaskan mengapa Anda memilih topik
b.    Tunjukkan bagaimana topik mempengaruhi khalayak
c.    Perlihatkan bagaimana khalayak dapat menggunakan informasi
d.   Nyatakan bagaimana khalayak dapat menarik keuntungan
e.    Hubungan dengan situasi pembicara atau acara yang sedang berlangsung
4.    Membangun Kredibilitas
a.    Tegaskan siapa Anda
b.    Jelaskan alasan pribadi mengapa Anda bicara
c.    Tunjukkan latar belakang yang relevan dengan topik
d.   Perlihatkan pengetahuan dan pengalaman
e.    Perlihatkan good sense dan good will
f.     Tampakkan semangat dalam suara dan cara
5.    Menyusun Pesan
a.    Sebutkan cakupan yang akan dibahas
b.    Tunjukkan susunan pokok bahasan
c.    Gunakan perpindahan gagasan yang jelas

BAB VI
PIDATO PERSUATIF
A.  Teknik-teknik Persuasi
Tidak ada teknik persuasi yang berlaku di mana saja, kapan saja, dan untuk apa saja. Waktu, situasi, dan khalayak sangat menentukan pemilihan teknik persuasi. Rahkmat (2006:98-102) dengan mengutip Ehninger, Monroe, dan Gronbeck merinci teknik-teknik persuasi berdasarkan jenis khalayak, yaitu sebagai berikut.
1.    Khalayak Tak Sadar
Kadang-kadang pendengar Anda tidak sadar akan adanya masalah atau tidak tahu bahwa perlu mengambil keputusan. Bila begini, persoalannya, Anda dapat menggunakan langkah-langkah urutan bermotif (motivated sequence), yaitu sebagai berikut.
a.    Tahap perhatian, bangkitkan minat khalayak dengan ilustrasi faktual, kutipan yang tepat, atau dengan beberapa fakta dan angka yang mengejutkan. Akan tetapi, Anda harus melakukannya dengan hati-hati.
b.    Tahap kebutuhan, sajikan sejumlah besar fakta, angka, dan kutipan yang ditunjukkan untuk memperlihatkan bahwa memang benar-benar ada masalah.
c.    Tahap pemuasan, visualisasi, dan tindakan. Mengingat pentingnya relevansi masalah yang sudah ditunjukkan, kembangkanlah tahap pemuasan, visualisasi, dan tahap tindakan seperti yang digunakan pada bab IV.
2.    Khalayak Apatis
Berbeda dengan khalayak pertama, khalayak apatis tahu ada masalah, tetapi mereka acuh tak acuh saja. Mereka berkata, “Apa urusannya dengan aku?”, “Memang aku harus mencemaskannya?”. Jelaslah, bagi orang-orang seperti itu bahwa tujuan Anda adalah membuat mereka sadar bahwa yang kita bicarakan itu betul-betul mempengaruhi mereka. Langkah-langkah yang Anda gunakan, yaitu sebagai berikut.
a.    Tahap perhatian, singkirkan sikap apatis dan ketidakpedulian mereka dengan menyentuh secara singkat beberapa hal yang berkaitan dengan kepentingan pendengar.
b.    Tahap kebutuhan, apabila sudah tumbuh perhatian, lanjutkanlah dengan menunjukkan secara langsung dan dramatis bagaimana masalah tersebut mempengaruhi setiap orang yang hadir.
c.    Tahap pemuasan, dalam membangun tahap pemuasan, tegaskan kembali bagaimana usulan atau pemecahan yang Anda tawarkan berpengaruh langsung pada kepentingan pendengar sendiri atau keluarga atau sejawat mereka.
d.   Tahap visualisasi dan tindakan, visualisasikan secara jelas keuntungan yang akan diperoleh khalayak, sekiranya mereka menerima gagasan Anda; dan kerugian besar jika mereka tetap tidak mengacuhkannya. Berdasarkan visualisasi ini, mintalah kepada mereka untuk mempelajari masalah ini atau untuk bertindak mengatasinya.
3.    Khalayak yang Tertarik tetapi Ragu
Sebagian khalayak tahu dan sadar akan adanya masalah; tahu bahwa perlu mengambil keputusan, tetapi mereka masih meragukan keyakinan yang harus mereka ikuti atau tindakan yang harus mereka jalankan. Untuk mengatasi keraguan, maka gunakanlah langkah-langkah, yaitu sebagai berikut.
a.    Tahap perhatian, fokuskan perhatian hanya kepada hal-hal yang pokok-pokok saja.
b.    Tahap kebutuhan, tinjaulah latar belakang munculnya masalah. Kemudian, buatlah kriteria atau pedoman yang harus dipenuhi dalam mengambil keputusan yang tepat.
c.    Tahap pemuasan, inilah bagian pidato Anda yang paling panjang yang berisi usulan atau tunjukkan secara ringkas rencana tindakan yang harus dilakukan dan definisikan istilah-istilah yang kabur atau menimbulkan berbagai penafsiran.
d.   Tahap visualisasi, lakukan langkah ini singkat saja dibandingkan dengan bagian pidato lain. Gunakan bahasa yang hidup dan persuasif, tetapi jangan berlebih-lebihan.
e.    Tahap tindakan, nyatakan kembali dengan bahasa yang jelas dan kuat, usulan, anjuran atau rencana yang Anda canangkan.

4.    Khalayak yang Bermusuhan
Kadang-kadang khalayak sadar bahwa ada problem atau bahwa ada masalah yang harus diatasi, tetapi mereka menentang usulan yang Anda ajukan. Penentangan ini boleh saja terjadi karena takut akan akibat yang tidak dikehendaki atau lebih menyukai alternatif lain dari pada yang Anda tawarkan.  Apa pun kejadiannya, bila tujuan Anda adalah mengatasi keberatan-keberatan khalayak dan mengupayakan agar mereka menerima gagasan Anda, ikutilah urutan bermotif berikut ini.
a.    Tahap perhatian, karena Anda tahu khalayak memusuhi usulan Anda, pertama kali, usahakan untuk menyambungkan “persahabatan” dengan khalayak Anda dan menjadikan mereka mau mendengar.
b.    Tahap kebutuhan, capailah kesepakatan pada prinsip-prinsip atau keyakinan-keyakinan. Gunakan prinsip-prinsip ini sebagai kriteria untuk mengukur kebenaran proposisi yang Anda kemukakan. Atau, kembangkanlah tahap ini, seperti Anda melakukannya untuk khalayak yang masih ragu.
c.    Tahap visual dan tindakan, sekiranya, anda berhasil sampai di sini, para pendengar sudah berada dalam posisi khalayak yang tertarik dengan masalah yang dibicarakan, tetapi masih ragu. Pengembangan pidato Anda tidak berada dari pola pidato sebelumnya (khalayak ragu), tetapi berilah tekanan lebih banyak pada visualisasi atau keuntungan-keuntungan.

B.  Menetapkan Daya Tarik Motif
Motif adalah kondisi intern yang mengatur dan menggalakkan tingkah laku menuju arah tertentu. Daya tarik yang dapat menimbulkan kondisi intern tersebut kita sebut daya tarik motif (motive appeals). Berikut ini uraian mengenai motif dan daya tarik motif.
1.    Biologis
a.    Lapar dan dahaga  : kenikmatan, kesenangan, dan kemewahan
b.    Lelah                      : rekreasi, permainan, pelepasan dari ketegangan
c.    Seks                       : daya tarik seks, perkosaan, penistaan
d.   Keselamatan          : kesehatan, keamanan, perlindungan, ketentraman
2.    Psikologis
a.    Organisme
1)   Ingin tahu          : Pengetahuan, pengalaman, petualangan, variasi
2)   Prestasi              :Perjuangan, kemampuan, ambisi, kreasi, hasrat membangun
b.    Sosial
1)   Kasih sayang     : kesetiaan, kekeluargaan, simpati, rasa belas, hasrat meniru,
2)   Harga diri          : kebanggaan, kemuliaan
3)   Kekuasaan         : kekuatan, paksaan, pengaruh kebebasan
c.    Transedental
1)   Rasa agama        : pemujaan, kesucian, mirakel, kegaiban, kepercayaan
2)   Nilai filosofis     : keindahan, keagungan, keadilan, kebenaran

1.    Menggunakan Daya Tarik Motif
Untuk menggunakan daya tarik motif ini dalam pidato, hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
a.    Tidak ada daya tarik motif yang paling baik. Semuanya baik, asalkan sesuai dengan situasi dan khalayak yang dihadapi. Motif biologis amat cocok bagi khalayak yang kebutuhan hidupnya belum mencukupi, tetapi motif prestasi baru cocok untuk tingkatan masyarakat yang lebih tinggi. Di kalangan umat beragama transedental lebih tepat lagi.
b.    Dari sejumlah motif itu, ambillah motif utama saja. Motif-motif lainnya hanya dipergunakan sebagai penunjang pada motif tersebut. Dalam istilah psikologi, motif ini disebut central organizing motive (COM). Bila ahli pidato ingin menanamkan kesetiaan kepada kelompoknya, ia mungkin menonjolkan hubungan kesetiaan ini dengan kebanggaan (motif biologis). Akan tetapi, motif utamanya tetap sama: kesetiaan.



2.    Unsur Emosi sebagai Intensifikasi Daya Tarik Motif
Menuru J.B. Watson (dalam Rahkmat, 2006:106) semua emosi merupakan hasil proses belajar, kecuali tiga, yaitu takut, berang, dan cinta. Lebih lanjut, Emil Dofivat (dalam Rahkmat, 2006:106-108) menyatakan ada tujuh penggerak emosi, namun dalam buku ini hanya dibahas enam penggerak emosi, yaitu sebagai berikut.
a.    Kebencian
Kebencian dengan rekan-rekannya, iri hati, kedengkian, kemarahan, dan dendam memegang peranan utama dalam menggerakkan manusia. Menurut Max Scheler (dalam Rahkmat, 2006:106) secara psikologis kebencian adalah alat perangsang yang mutlak untuk membangkitkan semangat berjuang. Kebencian tidak selalu jelek, bergantung dari objek yang dibencinya dan kerangka etis yang mendasarinya.
b.    Rasa Belas
Rasa belas dapat dibangkitkan dengan menonjolkan penderitaan korban, mendramatisasikan kepahlawanan atau menonjolkan suasana tidak berdaya. Digabungkan dengan kebencian, rasa belas ini menimbulkan kengerian. Dikombinasikan dengan nilai yang tinggi, rasa belas dapat menghasilkan semangat yang berkobar.
c.    Unsur Seks
Unsur seks dapat ditampakkan dalam bermacam-macam cara. Pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia sudah tidak diragukan lagi. Sigmund Freud bahkan menganggap bahwa unsur seks terdapat dalam seluruh kegiatan manusia sejak kesenian, pengetahuan, politik, ..., bahkan agama. Dengan menyertakan tata nilai, unsur seks dapat menimbulkan kebencian luar biasa. Perkosaan terhadap rekan satu kelompok dapat membakar kemarahan kelompok tersebut.
d.   Hasrat Menonjol
Sebagai individu, manusia ingin “lebih” dari orang lain. Sebagai kelompok ia pun ingin menonjol dari kelompok yang lain. Dalam taraf bangsa, hasrat menonjol ini dapat menimbulkan Chauvinisme (dari segi negatif) atau kepahlawanan (dari segi positif). Pemujaan pada agamanya, kelompoknya, pemimpinnya atau keyakinan hidupnya merupakan ungkapan hasrat menonjol manusia.
e.    Dasar Kesusilaan
Manusia memiliki nilai-nilai batiniah yang tinggi, yang untuk itu ia rela mengabdi dan berjuang. Ia ingin berbuat sesuatu yang “berarti” dalam hidupnya di dunia ini. Untuk itu, ia memerlukan tujuan yang mungkin berupa kehidupan bahagia di akhirat, masa depan yang gemilang, tegaknya keadilan dan kebenaran, atau terwujudnya masyrakat yang tentram.
f.     Dorongan Penglepasan Etis
Dalam teori persuasi modern, penglepasan etis ini dapat disalurkan melalui mekanisme penyesuaian, seperti rasionalisme, kompensasi, proyeksi, represi, kontraposisi, identifikasi, fantasi, dan negatifisme.

3.    Faktor Penentu Kepribadian (Personality Determinants)
Usaha untuk mencari faktor-faktor yang menentukan kepribadian manusia sudah lama dilakukan sejak ribuan tahun yang silam. Zaman dahulu orang tua menghubungkan kepribadian dengan hari dan tanggal kelahiran, letak tahi lalat pada tubuh, atau tanda-tanda jasmaniah lainnya. Akan tetapi, teori kepribadian yang tertua dikemukakan oleh Hipocrates, bapak kedokteran yang hidup kira-kira 460 SM. Dalam uraian Galen (dalam Rahkmat, 2006:108), teori ini menyatakan bahwa kepribadian manusia ditentukan oleh empat macam cairan dalam tubuhnya. Bila cairan darah yang dominan, maka Anda bersifat riang, gembira, optimis, dan lincah. Cairan hitam menyebabkan pribadi yang melankolis, muram, dan penyedih. Cairan kuning  menjadikan  orang mudah tersinggung dan pemarah. Anda akan bersifat flegmatis, lambat, alon-alon, dan malas kalau tubuh Anda dikuasai lendir (phelgm).
Tentu saja teori ini sama tak ilmiahnya dengan teori kepribadian Alwasim dukun kampung. Hubungan antara bentuk tubuh dengan kepribadian yang lebih ilmiah dinyatakan oleh Ernst Kretschmer, Sheldon, Stevens, dan Tucker (dalam Rahkmat, 2006:108-109). Pertama, Sheldon cs. menyatakan manusia dapat digolongkan dalam tiga kategori: endomorfi, mesomorfi, dan ekstomorfi. Orang endomorfi berkulit halus, licin, pendek besar dengan perut yang bundar dan kepala yang biasanya botak di tengah. Endomorfi bersifat peramah, riang, senang bergaul, suka makan, dan mudah menyesuaikan diri. Orang mesomorfi memiliki tubuh yang tegap, atletis, dan biasanya jangkung dengan dada yang lebar, otot-ototnya yang kuat menyebabkan mesomorfi bersifat berani, bebas, ambisius, avonturir, dan senang bertarung. Orang ekstomorfi adalah orang-orang pemikir, senang menyendiri, mudah tersinggung. Oleh karena itu tubuhnya kurus, tinggi dengan kulit yang tipis dan kering.
Teori Scheldon cs. tidak semudah seperti yang dinyatakan. Selanjutnya, teori yang berhubungan dengan retorika adalah teori yang dikemukakan oleh Khulchohn dan Murray (dalam Rahkmat, 2006:109) bahwa ada empat macam penentu kepribadian, yaitu sebagai berikut.
a.       Constitution (struktur jasmani)
b.      Group membersip (keanggotaan kelompok)
c.       Role (peranan)
d.      Situation (situasi)

C.  Pencitraan (Imagery)
Penggunaan bahasa untuk menggambarkan stimuli disebut imagery (pencitraan). Anda dapat bercerita sedemikian rupa sehingga pendengar seakan-akan ikut melihat (visual imagery), mendengar (auditory imagery), mengecap (gustarory imagery), mencium (olfactory imagery), menyentuh, menggerakkan otot (kinesthetic imagery) atau merasakan mual di dalam tubuh mereka (organic imagery).
D.  Isi Pesan Persuatif
Wayne N. Thompson (dalam Rahkmat, 2006:115) menyatakan bahwa untuk menunjukkan “bahan-bahan” yang tepat untuk pidato persuasif dengan memperhatikan tujuannya, yaitu menarik perhatian, meyakinkan, dan menyentuh atau menggerakkan. Berikut uraian lebih rinci.
1.     Menarik Perhatian
Ada sejumlah daftar panjang mengenai bahan-bahan yang menarik perhatian. Inilah sebagian dari daftar itu, yaitu sebagai berikut.
a.    Hal konkret, suspense, konflik, gerakan yang berkaitan dengan sesuatu yang dikenal yang baru dan eksotik.
b.    Fakta sensasional.
c.    Yang berhubungan dengan peristiwa aktual, mode, dan sebagainya.
d.   Kata-kata berona dan gaya bahasa.
e.    Struktur kalimat yang beragam.
f.     Kutipan dan peribahasa  yang diterapkan dengan cara baru
g.    Perbandingan, contoh, anekdot.
h.    Rangkaian pernyataan atau fakta yang mengejutkan.
i.      Ramalan.
j.      Humur.
k.    Yang berhubungan dengan orang, tempat, atau peristiwa lokal.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam memilih bahan-bahan di atas, yaitu sebagai berikut.
a.    Tunjukkan bahwa topik itu berhubungan erat dengan kepentingan khalayak.
b.    Hindari satu jenis teknik pengembangan bahasan.
c.    Gunakan contoh-contoh yang spesifik dan konkret.
d.   Ceritakan kisah-kisah menarik.
e.    Organisasikan bahan-bahan itu atau berikan makna kepadanya secara orisinil, kreatif, dan informatif.
2.    Meyakinkan
Untuk meyakinkan pendengar, kita memerlukan bahasan tersendiri berkenaan dengan teknik-teknik argumentasi. Bahan-bahan yang dapat meyakinkan adalah bukti. Ada empat bukti yang harus dimasukkan ke dalam pidato, yaitu fakta, contoh, statistik, dan testimoni. Ada empat teknik penyajian bukti, yaitu induksi, deduksi, hubungan kausal, dan analogi.

3.    Menyentuh atau Menggerakkan
Bahan-bahan yang menyentuh atau menggerakkan adalah bahan-bahan yang mempunyai pengaruh psikologis. Pembicaraan kita tentang daya tarik motif sangat relevan. Penggunaan daya tarik motif melalui tiga tahap, yaitu analisis, seleksi, dan adaptasi. Pertama, temukan keinginan, harapan, cita-cita khalayak tertentu. Kedua, pilihlah bahan-bahan yang sesuai dengan keinginan khalayak. Ketiga, hubungkan usulan kita dengan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan khalayak tersebut. Setelah Anda menggunakan daya tarik motif (salah satu di antaranya), Anda dapat mengintensifkannya dengan unsur-unsur emosi dan teknik-teknik penyesuaian, seperti rasionalisasi, kompensasi, identifikasi.

E.  Organisasi Pesan Persuatif 
Pola yang digunakan dalam pidato persuasif disesuaikan pada topik yang Anda bicarakan. Berikut ini beberapa pola yang digunakan dalam pidato persuasif.
1.    Pola Pemecahan Masalah
Pola ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai alternatif pemacahan masalah dan menunjukkan alternatif terbaik. Busby dan Majors (Rahkmat, 2006:119) membuat ikhtisar pola pemecahan masalah sebagai berikut.
I.    Pengantar atau pendahuluan
II. Isi Pidato
A.    Tunjukkan Masalahnya
1.      Apa penyebabnya?
2.      Siapa yang bertanggung jawab?
3.      Sejauh mana urgensinya?
B.     Tunjukkan alternatif pemecahan
1.      Adakah pemecahan masalah?
2.      Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah?
3.      Siapa yang dapat bertindak mengatasi masalah?
C.     Tunjukkan pemecahan terbaik
1.      Apa yang pernah dilakukan orang untuk memecahkan masalah itu?
2.      Mana pemecahan yang Anda usulkan?
3.      Mana pemecahan yang disukai khalayak?
III.   Kesimpulan atau penutup

2.    Pola Sebab-Akibat
Pola ini dimaksudkan untuk melukiskan situasi yang terjadi. Dengan pola ini pendengar diajak untuk memahami masalah lebih jernih dan mengerti sebab-sebabnya. Boleh juga pola ini dipergunakan untuk membahas masalah yang sebab-sebabnya tidak mudah diketahui. Busby dan Majors (dalam Rahkmat, 2006:119) membuat ikhtisar sebagai berikut.
I.    Pengantar atau Pendahuluan
II. Isi Pidato
A.    Tunjukkan sebab-sebab timbulnya kasus
1.      Faktor-faktor apa yang dapat menimbulkannya?
2.      Apakah kasus itu merupakan respon pada kasus lain?
3.      Siapa bertanggung jawab?
B.     Tunjukkan akibat-akibat kasus
1.      Bagaimana indikasi kasus?
2.      Siapa yang dikenai kasus?
3.      Faktor-faktor apa bagi yang terpengaruh?
C.     Apa yang dapat atau harus dilakukan
1.      Apa jalan keluarnya?
2.      Bagaimana jalan keluar itu menimbulkan efek yang dikehendaki?
3.      Apa faidah-faidahnya?
4.      Siapa yang harus melakukannya?
III.   Kesimpulan atau Penutup
3.    Pola Pro-Kontra
Berikut ini ikhtisar pola pro-kontra.
I.    Pengantar atau pendahuluan
II. Isi Pidato
A.    Tunjukkan keuntungan-keuntungannya
1.      Aspek mana dari pokok pembicaraan yang paling menarik?
2.      Keuntungan apa yang bakal diperoleh pendengar?
B.     Tunjukkan kerugian-kerugiannya
1.      Aspek mana yang paling tidak menarik?
2.      Adakah kerugian atau biaya tersembunyi yang akan dialami pendengar?
C.     Tunjukkan bagaimana pendengar memperoleh keuntungan
1.      Apakah keuntungan lebih besar dari kerugian?
2.      Langkah-langkah apa yang harus diambil untuk memperoleh keuntungan?
3.      Bagaimana pendengar dapat berperan serta?
4.      Bila tindakan itu harus dilakukan?

4.    Pola Urutan Bermotif
Pola ini lazim disebut sebagai pola Monreo (dari perumusnya Dr. Alan h. Monreo). Berikut ini ikhtisar pola urutan bermotif.
I.    Pengantar atau Pendahuluan
A.    Perhatian
1.      Bagaimana menarik perhatian?
2.      Bagaimana memusatkan perhatian?
B.     Kebutuhan
1.      Apa masalah yang dihadapi?
2.      Apa yang sudah diketahui khalayak?
3.      Bagaimana membuat khalayak merasakan kebutuhan itu?
II.      Isi Pidato
A.    Pemuasan
1.      Bagaimana kebutuhan khalayak dapat dipuaskan?
2.      Apa tanda-tanda pemuas kebutuhan?
3.      Di mana pemuasan itu dapat diperoleh?
B.     Visualisasi
1.      Apa keuntungan bagi khalayak?
2.      Bagaimana keadaannya bila kebutuhan itu terpenuhi?
III.   Kesimpulan atau Penutup
A.    Imbauan atau Tindakan
1.      Apa yang harus dilakukan khalayak untuk memperoleh pemuas kebutuhan?
2.      Kapan mereka harus bertindak?













BAB VI
PIDATO REKREATIF

            Pidato rekreatif adalah jenis pidato yang paling sukar dilakukan, tetapi paling cepat diketahui maksudnya. Untuk menyampaikan pidato rekreatif, kita bukan hanya memerlukan keterampilan berbicara, tetapi juga kecerdasan. Bab ini akan menjelaskan karakteristik pidato rekreatif, teori-teori humor, teknik-teknik membuat humor, dan organisasi pesan rekreatif.
A.  Karakteristik Pidato Rekreatif
Pidato rekreatif disampaikan dalam berbagai situasi, yaitu perhelatan atau pesta, pertemuan kelompok, dan jamuan makan malam. Berikut ini karakteristik pidato rekreatif.
1.    Gembirakan diri Anda, maksudnya Anda tidak akan bisa menghibur orang lain, bila kabut kesedihan menutup wajah Anda.
2.    Hindari rangkaian gagasan yang sulit, maksudnya dalam pidato rekreatif, Anda tidak menyampaikan gagasan, pengetahuan, atau informasi. Namun, Anda sedang menghibur, jadi pililah topik-topik yang enteng, sederhana, dan mudah dicerna.
3.    Gunakan gaya bercerita (naratif), maksudnya dalam berpidato Anda dapat memasukkan berbagai cerita, anekdot, atau contoh konkret yang mendukung pidato Anda.
4.    Berbicaralah singkat, maksudnya dalam pidato rekreatif tidak dituntut mengikuti urutan bermotif yang lengkap. Pidato rekreatif hanya sampai pada tahap perhatian saja.

B.  Teori-teori Humor
Di kalangan para filusuf dikenal tiga teori humor, yaitu sebagai berikut.
1.    Teori Superioritas dan Degradasi
Kita tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal atau kekeliruan atau cacat. Teori ini tepat untuk menganalisis jenis-jenis humor, seperti satire. Satire adalah humor yang mengungkapkan kejelekan, kekeliruan, atau kelemahan orang, gagasan, atau lembaga untuk memperbaikinya. Satire dapat bersifat langsung dengan membongkar hal-hal yang jelek atau membesar-besarkannya (exaggeration); atau tidak langsung melalui parodi, ironi, dan burlesque.
2.    Teori Biosasi
Teori ini dirumuskan oleh Arthur koestler, tapi berasal dari filusuf-filusuf besar seperti Pascal, Kant, Spencer, Schopenhauer. Menurut teori ini, humor timbul karena kita menemukan hal-hal yang tidak kita duga atau kalimat (juga kata) yang menimbulkan dua macam asosiasi. yang pertama, kita sebut teknik belokan mendadak (unixpected turns) dan yang kedua disebut asosiasi ganda (puns).
3.    Teori Pelepasan Inhibisi
Teori ini diambil dari teori Sigmund Freud. Maksud teori ini adalah kita melepaskan pengalaman yang tidak enak atau keinginan yang tidak terwujud kepada masyarakat.

C.  Teknik-teknik Humor
Dari dua teori yang pertama di atas, kita akan menjelaskan beberapa teknik humor beserta contoh-contohnya. Dari teori pertama, kita akan mengambil exaggeration, parodi, ironi, burlesque, perilaku aneh para tokoh, dan perilaku orang lain. dari teori kedua kita akan membahas belokan mendadak dan puns.
1.    Exaggeration
Exaggeration berarti melebihkan sesuatu secara tidak proposional. Exaggeration dilakukan untuk membongkar kejelekan sejelas-jelasnya dengan maksud mengoreksinya. Misalnya, murid-murid sekolah melakukan eaxggeration, ketika mereka melukiskan saat guru memberikan pelajaran sebagai “hujan lokal”.
2.    Parodi
Parodi berasal dari bahasa Yunani ‘para’ , di samping dan ‘oide’, lagu) adalah sejenis komposisi di mana gaya suatu karya (seperti prosa, puisi, atau prosa liris) yang serius ditiru dengan maksud melucu. Dalam pidato rekreatif, parodi dapat berupa peniruan suara dan gaya bicara seorang tokoh atau peniruan verbal terhadap karya sastra atau karya-karya tulis yang serius. Inilah contoh kata-kata serius yang diparodikan: konferensi Nona Blok A, Telorisme, biduanita ICMI AZIZ, Bergincu dalam Melodi, Dunia dalam Derita.
3.    Ironi
Ironi (berasal dari kata Yunani eiron “seseorang yang mengatakan lebih sedikit dari apa yang dipikirkan”) adalah menggunakan kata-kata untuk menyampaikan makna yang bertentangan dengan makna harfiahnya. Berikut contoh Ironi.
Fatwa Jenggot
            Seluruh lapisan ambtenaar Jawa Barat mulai sekarang musti meningkatkan ketertiban, keamanan dan kerapian, dengan cara membabat habis jenggot sampai ke antek-anteknya dan akar-akarnya.
            Jenggot tidak menambah ganteng wajah, malah bisa mengurangi  keramahan, menakutkan rakyat dan mengganggu efektifitas kerja. Lebih dari itu, jenggot bikin kita ingat para Mullah atau Ayatullah kaum Syi’ah yang ekstremis. Juga Karl Marx. Bikin tak sedap.
            Sebuah universitas di sebuah negeri pernah melarang seluruh civitas akademikanya untuk berjenggot. Tapi, sesudah terjadi kekacauan demonstrasi oleh oknum-oknum yang justru bersih jenggot, maka kemudian dianjurkan memelihara jenggot.
            Saya pikir larangan jenggot saja tidak cukup!
            Kalau kita ingin menjadi bangsa besar, kita musti cermat mengurusi hal-hal kecil. Seluruh rambut manusia – yang namanya berbeda-beda berdasarkan lokasinya – sebaiknya ditertibkan. Baik potongannya, arah cuatan-cuatannya, maupun jumlahnya. Jangan pernah berpikir bahwa sehelai rambut tidak bisa melakukan tindak subversi.
            ........................................................................................................................
            Negara yang santun kepada warganya memang perlu mengurusi nasib seluruh bagian kehidupan di wilayahnya sampai yang sekecil-kecilnya. Kita butuh fatwa jenggot, fatwa panjang pendeknya kuku, fatwa tentang gincu merk apa yang mesti di pakai ....
4.    Burlesque
Burlesque (berasal dari bahasa Itali “burlesco”, lelucon, hal-hal yang menggelikan) adalah teknik membuat humor dengan memperlakukan hal-hal yang seenaknya secara serius atau hal-hal yang serius secara seenaknya. Saya harus mengutip lagi Humor (No.35) rubrik Ilmu Ketahuan (judul yang paradik):
8 Keanehan Pesawat Terbang
a.       Tidak ada penumpang berdiri, walaupun pada hari-hari besar sekali.
b.      Kalau terjadi kecelakaan, dicari sampai ketemu, meskipun penumpangnya cuma dua orang.
c.       Makanan dan minuman gratis dan tidak ada kondektur yang narik karcis.
d.      Tidak memerlukan kaca spion samping dan presneling mundur.
e.       Kaca jendela dikunci mati karena tidak ada pedagang asongan yang beroperasi sebagaimana yang terjadi di bus-bus umum.
f.       Tidak pernah berhenti di udara dan kena razia surat-surat perlengkapan pesawat terbang oleh polisi lalu lintasdi langit.
g.      Tempat duduk dilengkapi dengan ikat pinggang, jadi sangat cocok bagi Anda yang belum sempat makan.
h.      Ada ucapan selamat datang menjelang berangkat dan terima kasih sesampainya di tujuan. Di kereta api, bus, apalagi mikrolet, mana ada?
5.    Perilaku Aneh Para Tokoh
Para tokoh sudah menarik dengan sendirinya; apalagi bila perilakunya aneh. Sesuai dengan teori superioritas, kita memperoleh kesenangan bila kita melihat hal-hal yang ganjil atau menyimpang pada perilaku orang lain. kesenangan itu lahir karena kita tidak menderita keganjilan itu. Kita lebih baik dari objek yang kita tertawakan. Tentu saja kesenangan kita itu menjadi luar biasa, bila objek yang kita tertawakan itu adalah orang-orang besar. Misalnya, kisah Edison berikut ini.
Dalam suatu pertemuan untuk menghormati penemuan mesin bicara (gramafon) dari Edison, seseorang memperkenalkan siapa Edison. Pidato pengantarnya sangat panjang dan bertele-tele. Para pendengar melihat bahwa pembicara seperti tidak bisa berhenti (dalam bahasa komputer, ia tidak bisa exit). Setelah pemberi pengantar, Edison berpidato. Ia memulai pidatonya dengan berkata, “Saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak (pembicara terdahulu) atas pujiannya. Tetapi saya ingin memberikan koreksi. Tuhanlah yang menciptakan mesin bicara. Saya hanyalah orang yang pertama kali menemukan mesin bicara yang bisa disuruh diam”.

6.    Perilaku Orang Aneh
Perilaku bangsa-bangsa yang aneh atau orang-orang aneh selalu dijadikan bumbu-bumbu humor. Akan tetapi, penggunaannya dalam pidato rekreatif harus dilakukan sangat hati-hati. Bila kita agak ceroboh, Anda bisa dihukum karena SARA. Misalnya, ketika Abdurrahman Wahid pernah memberi kata pengantar untuk Mati Ketawa Cara Rusia. Seperti judulnya buku itu berisi guyonan Rusia. Akan tetapi, Gusdur mempunyai pembendaharaan humor yang kaya, mencakup berbagai bangsa. Ia sendiri sebetulnya orang aneh. Karena itu, saya hanya ingin bercerita tentang dirinya saja. Ia mempunyai anak yang belajar di Fakultas Psikologi. Ketika saya tanya mengapa anak kiai belajar psikologi (psikologi klinis lagi), Gus Dur menjawab, “Di NU banyak yang gendeng”. Saya bertanya lagi “Apakah bukan karena ia ingin berkhidmat pada bapaknya?”
7.    Belokan Mendadak
Teknik ini dirumuskan Monreo sebagai berikut: bawalah khalayak Anda untuk meyakini bahwa akan berbicara yang biasa: kemudian katakanlah sebaliknya. Sekali waktu saya mengambil program S3 (doktor) di UNPAD. Saya menghadiri kuliah dengan rajin, di samping mengajar mahasiswa S2. Saya sangat dekat dengan para profesor dan pimpinan Fakultas Pascasarjana. Otak saya juga rasanya lumayan. Karena itu, setelah bekerja keras selama berahun-tahun, saya mendapat hasil yang membahagiakan. Saya di-DO. Kata terakhir ini disebut belokan mendadak.
8.    Puns
Puns adalah teknik mempermainkan kata-kata yang mempunyai makna ganda. Saya pernah memberikan contohnya pada kata “conceive” dan “deliver” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, kita memiliki banyak sekali kata yang seperti itu. Perhatikanlah kalimat-kalimat di bawah ini.
Pemilu betul-betul membuat saya pilu.
Dengan secangkir kopi, ia berhasil membuat seratus kopi.
Saya menolak karena pertimbangan ke-pribadi-an. Ia tidak mempunyai  kendaraan pribadi , sopir pribadi, perusahaan pribadi, rumah pribadi.

D.  Organisasi Pesan
Monreo (dalam Rahkmat, 2006:134) menyarankan dua cara mengorganisasikan pesan rekreatif. Pertama, teknik satu pokok (one-point speech), memusatkan pembicaraan hanya pada satu pokok pembicaraan saja. Kedua, meniru organisasi pesan persuasif dan memberlakukannya secara main-main. Dengan kata lain, pidato kita adalah pidato persuasif yang dijadikan burlesque. Berikut ini penjelasan Monreo (dalam Rahkmat, 2006:134-136) tentang keduanya.
1.    Teknik Satu Pokok
Jika Anda menggunakan teknik ini, pidato Anda merupakan serangkaian ilustrasi, anekdot, dan kontras-kontras humor yang disampaikan secara cepat. Setiap satuan humor harus dipusatkan pada satu gagasan utama. Berikut ini rumusan sederhana untuk organisasi seperti itu.
a.    Kisahkan cerita atau berikan ilustrasi.
b.    Tunjukkan gagasan pokok yang menjadi pijakan untuk mempersatukan rincian pembicaraan Anda.
c.    Ikuti dengan serangkaian cerita dan ilustrasi tambahan.
d.   Tutup dengan mengulang kembali gagasan utama yang telah Anda jelaskan.
2.    Urutan Bermotif Burlesque
Ketika Anda menggunakan metode kedua ini, pidato Anda hanya mengandung tahap perhatian saja, ditinjau dari rekreasi psikologis pendengar. Akan tetapi, struktur pembicaraan dapat disusun berdasarkan urutan bermotif, yang mempermainkan tahap-tahap yang digunakan dalam persuasi serius.
Tahap perhatian, mulailah pembicaraan Anda dengan salah satu di antara empat cara ini: hubungkan dengan kejadian lucu yang aktual, buat kelucuan yang diarahkan pada pembawa acara atau siapa saja, kisahkan cerita atau anekdot. Kemudian, dengan cara tertentu, hubungkan permulaan pembicaraan Anda dengan tahap kedua.
Tahap kebutuhan dan pemuasan, sajikan masalah serius, perbesar tingkat keseriusannya melebihi proposisinya, kemudian tawarkan pemecehan yang absurd atau tunjukkan bagaimana pemecahan yang aktual itu juga absurd, atau sajikan masalah yang absurd, kemudian berikan metode pemecahan masalah yang absurd. Masukkan sejumlah anekdot lucu untuk menegaskan kejanggalan-kejanggalan.
Tahap visualisasi, pada tahap ini perbesar kejanggalan itu dengan menambahkan lagi gambaran kondisi yang dilebih-lebihkan. Selanjutnya tahap tindakan, pada tahap ini tutup pembicaraan Anda secara cepat dengan mempermainkan tuntutan tindakan yang juga dibesar-besarkan. Buatlah sentuhan terakhir ini pendek dan lucu.

Sumber: Rahkmat, Jalaluddin. 2006. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosadakarya.